BMKG Waspadai El Nino Berkepanjangan, Operasi Modifikasi Cuaca Digelar hingga 10 Juni
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) serempak di Pulau Jawa pada 30 Mei hingga 10 Juni 2024. Aktivitas ini menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), dan TNI Angkatan Udara.
Dwikorita mengatakan, langkah ini dilakukan untuk mengamankan pasokan air terutama pada jaringan irigasi pertanian sehingga dapat mencukupi kebutuhan air selama musim kemarau.
“BMKG akan semakin aktif menjalankan tugas aksi dini mitigasi potensi bencana hidrometeorologi termasuk kekeringan yang bisa berdampak pada berkurangnya ketersediaan air,” kata Dwikorita di laman resminya, diakses Minggu (2/6/2024).
Lebih lanjut kata dia, operasi ini didukung empat pesawat jenis CASA 212 milik TNI AU dari Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Abd Rahman Saleh Malang. Tiap posko dari masing-masing lanud akan bertanggung jawab di wilayah terdekat.
Lanud Husein Sastranegara dari posko Bandung akan bertanggung jawab untuk pengisian waduk di wilayah Jawa Barat. Lanud Halim Perdana Kusuma dari posko Jakarta akan bertanggung jawab untuk pengisian waduk di sebagian Jawa Barat dan Banten.
Baca Juga
BMKG: Sebagian Jakarta Cerah Berawan, Potensi Hujan di Jaksel Kamis Siang
Lanud Adi Sumarmo dari posko Solo akan bertanggung jawab untuk pengisian waduk di sebagian Jawa Tengah. Lanud Mulyono dari posko Surabaya akan bertanggung jawab untuk pengisian waduk di sebagian Jawa Timur.
Sebelumnya, Dwikorita telah mengirim laporan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai potensi kekeringan meteorologis pada musim kemarau pada 29 Mei 2024. Untuk mengatasi potensi kekeringan meteorologis, pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan tindakan kesiagaan.
"Laporan kepada Presiden perihal kondisi iklim dan kesiapsiagaan kekeringan 2024 sudah kami sampaikan agar mendapat atensi khusus pemerintah sehingga risiko dan dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi dan diminimalisir sekecil mungkin," kata Dwikorita, Selasa (28/5/2024).
Dwikorita menyampaikan mayoritas wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) sepanjang 21-30 hari atau lebih panjang. Selain itu, berdasarkan analisis curah hujan dan sifat hujan yang dilakukan BMKG, menunjukkan kondisi kering sudah mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan khatulistiwa.
"Sebagian wilayah Indonesia sebanyak 19% dari Zona Musim sudah masuk musim kemarau, dan diprediksi sebagian besar wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara segera menyusul memasuki musim kemarau dalam tiga dasarian ke depan. Kondisi kekeringan ini saat musim kemarau akan mendominasi wilayah Indonesia sampai akhir bulan September," kata dia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan, hingga dasarian II Mei 2024, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) sebesar +0.21 atau dalam kondisi netral. Kondisi indeks ENSO sudah berada pada level netral selama dua dasarian dan diprediksi akan terus netral sampai periode Juni-Juli 2024.
Pada periode Juli-Agustus-September 2024, ENSO Netral diprediksi akan beralih menuju fase La Nina lemah yang akan bertahan hingga akhir tahun 2024. Fenomena La Nina lemah ini diprediksi tidak berdampak pada musim kemarau yang akan segera hadir.
Baca Juga
Sedangkan di Samudera Hindia, kata Ardhasena, pemantauan suhu muka laut menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) Netral namun ada kecenderungan beralih ke fase IOD Positif. Melihat fakta tersebut, lanjut dia, maka daerah dengan potensi curah hujan bulanan sangat rendah dengan kategori kurang dari 50 mm per bulan perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mitigasi dan antisipasi dampak kekeringan.
Daerah tersebut meliputi sebagian besar Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Pulau Sulawesi, dan sebagian Maluku dan Papua. Dari hasil monitoring hotspot yang dilakukan dengan satelit, beberapa hotspot awal pada daerah-daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sehingga diperlukan perhatian khusus untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di sepanjang musim kemarau.
"Memperhatikan dinamika atmosfer jangka pendek terkini, masih terdapat jendela waktu yang sangat singkat yang bisa dimanfaatkan secara optimal sebelum memasuki periode pertengahan musim kemarau," ujar Ardhasena.
Jokowi telah menugaskan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengantisipasi sulit air di lahan pertanian mendekati musim kemarau 2024. Langkah antisipasi tersebut dilakukan dengan pembuatan sumur dan pompa di titik rawan kekeringan.
“Kita telah mengantisipasi dengan membangun, membuat sumur-sumur pompa di titik-titik yang kemungkinan sudah kita hitung akan kekurangan air. Terutama di titik-titik yang berkaitan dengan pertanian, dengan beras,” kata Jokowi, saat kunjungan kerja di Karawang, Jawa Barat, Rabu (8/5/2024).
Jokowi memastikan stok beras di Bulog dalam kondisi aman. Dia mengatakan stok beras di Bulog mencapai 1,6 juta ton.
“Biasanya kita stok itu hanya maksimal, biasanya hanya 1,2 juta ton atau yang sering di bawah 1,2 juta ton. 900 ribu ton rata-rata stok kita,” katanya.

