Jalani Karantina, Ini Profil 11 Panelis Debat Kedua Cawapres
JAKARTA, Investortrust.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menunjuk 11 panelis debat kedua cawapres atau debat keempat Pilpres 2024 yang akan digelar di JCC Senayan, Jakarta, Minggu (21/1/2024). Para panelis menjalani proses karantina untuk menyusun pertanyaan kepada Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Gibran Rakabuming Raka, dan Mahfud MD saat debat nanti.
Komisioner KPU, August Mellaz menyebut 11 orang tersebut telah bersedia untuk menjadi panelis. Dia menjelaskan para panelis terdiri atas berbagai unsur sesuai dengan tema debat kedua cawapres, yakni pembangunan berkelanjutan dan lingkungan hidup, sumber daya alam dan energi, pangan, agraria, masyarakat adat, dan desa.
"Kami telah mengonfirmasi kesediaan para panelis yang berjumlah 11 orang dan mereka bersedia untuk mengikuti karantina," ujar August dalam konferensi pers yang digelar di kantor KPU, Jakarta Pusat, Jumat (19/1/2024).
Baca Juga
Mulai Jumat Ini 11 Panelis Debat Kedua Cawapres Jalani Karantina
Berikut profil singkat 11 panelis debat kedua cawapres yang dikutip dari berbagai sumber:
1. Abrar Saleng
Abrar Saleng adalah guru besar dan ahli hukum agraria dan sumber daya alam Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Abrar Saleng telah menerbitkan puluhan jurnal ilmiah dan buku yang telah dikutip sebanyak 641 kali.
Abrar banyak meneliti dan mengulas perlindungan hukum bagi berbagai pihak, termasuk masyarakat adat yang menjadi korban eksploitasi tambang.
Abrar juga pernah ditunjuk Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD untuk bergabung dalam tim reformasi hukum, yang menghasilkan naskah akademik dan rancangan peraturan perundang-undangan untuk masuk ke program legislasi nasional (prolegnas).
2. Arie Sujito
Arie Sujito merupakan sosiolog pedesaan dan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor. Arie juga ketua umum Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) periode 2023-2027.
Selama menjadi mahasiswa, Arie aktif di organisasi senat mahasiswa, pers kampus, serta menjadi Presidium Dewan Mahasiswa UGM. Arie aktif menyuarakan soal kebijakan politik dan penguatan tata kelola negara terhadap peningkatan kualitas lingkungan. Untuk menyuarakan pendapatnya, Arie memiliki kanal di berbagai platform yang dinamai bincang pinggiran.
3. Arif Satria
Arif Satria merupakan rektor Institut Pertanian Bogor (IPB). Ahli ekologi politik ini meraih gelar sarjana dan pascasarjana di IPB. Arif kemudian meraih doktor pada 2006 dari Department of Marine Social Science Universitas Kagoshima.
Arif telah menjadi pembicara di berbagai seminar nasional maupun konferensi di tingkat internasional. Arif menjadi delegasi Indonesia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi Rio +20 yang diselenggarakan Persatuan Bangsa-Bangsa di Brasil pada 2012. Arif juga menjadi pembicara pada forum tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB pada 2019. Arif pernah meraih penghargaan Yamamoto dari Organisasi Profesi bidang Sosial Ekonomi Perikanan atau IIFET di Vietnam pada 2008
4. Dewi Kartika
Dewi merupakan Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yang juga aktivis di berbagai organisasi kemasyarakatan. Bergabung di KPA sejak 2007, Dewa hingga saat ini juga menjadi bagian dari Dewan Global Internasional Land Coalition (ILC) di Asia.
Dewi mendapatkan beasiswa untuk belajar di Institute of Social Study (ISS) Den Haag, Belanda, pada 2011 di bidang transisi agraria. Dewi aktif menyuarakan tentang reformasi agraria yang hingga saat ini masih mengalami banyak konflik kepentingan juga struktural.
5. Fabby Tumiwa
Fabby Tumiwa saat ini menjabat sebagai direktur eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR). Lulusan Universitas Tufts, Amerika Serikat di bidang kebijakan energi dan iklim ini banyak menyoroti kebijakan transisi energi Indonesia dan upaya-upaya percepatan transformasi pada sektor ketenagalistrikan menuju energi baru terbarukan.
Fabby juga pernah menjadi delegasi Indonesia untuk negosiasi perubahan iklim pada 2006 hingga 2017. Pada 2023, Fabby Tumiwa diangkat ke grup konsultatif tingkat tinggi percepatan transisi energi oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
6. Hariadi Kartodihardjo
Hariadi merupakan guru besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB yang saat ini juga dipercaya sebagai penasihat senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar di bidang kebijakan tata kelola dalam pengelolaan sumber daya alam. Hariadi juga menjabat sebagai tenaga ahli kajian Perum Perhutani di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Hariadi banyak menyoroti isu-isu lingkungan, kehutanan, dan sumber daya alam dalam karya-karya ilmiahnya yang telah dikutip sebanyak 2.515 kali sejak 2015. Beberapa penelitiannya membahas tentang kajian kesiapan daerah dalam penanggulangan korupsi dalam pelaksanaan reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) dan kajian tata kelola perkebunan sawit.
7. Ridwan Yahya
Ridwan Yahya adalah seorang guru besar teknologi hasil hutan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu yang aktif di berbagai organisasi peneliti, seperti Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia. Ridwan Yahya juga Ketua Jurusan Kehutanan di Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu dan kepala Pusat Pengembangan Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi.
Ridwan Yahya pernah meraih sejumlah penghargaan. Beberapa di antaranya penghargaan dosen berprestasi pertama di tingkat Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu pada 2016, penghargaan presentasi terbaik pada gelaran Sustainable Future for Human Security Conference di Kyoto, Jepang pada 2010.
8. Rukka Sombolinggi
Rukka Sombolinggi merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai sekjen Aliansi masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Rukka menggunakan identitasnya sebagai masyarakat asli Toraja saat bekerja memperjuangkan hak-hak masyarakat di Jaringan Pembelaan Hak-hak Masyarakat Adat (Japhama).
Rukka banyak mengadvokasi perjuangan masyarakat adat yang hingga kini masih sering didiskriminasi saat terjadi kasus-kasus pengalihan fungsi tanah adat. Kisahnya tentang pengalaman masa kecil meminta permen kepada para turis yang datang ke Tana Toraja, diangkat di situs resmi AMAN. Dalam artikel tersebut, Rukka mengaku baru menyadari ada relasi ketimpangan antara orang kulit putih (turis) terhadap masyarakat adat, yang selama ini masih melanggengkan makna eksotisme untuk diasosiasikan pada masyarakat adat yang tak hanya berbeda, tetapi juga terasing, terpencil, primitif, miskin, dan inferior.
Baca Juga
KPU Umumkan 11 Panelis Debat Keempat Pilpres 2024, Ini Daftarnya
9. Sudharto P Hadi
Sudharto P Hadi merupakan pakar manajemen lingkungan yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Sudharto menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di Kanada.
Sudharto aktif mengajar di beberapa program baik S1, S2, maupun S3 di Undip dan berbagai universitas lainnya di bidang perencanaan atau manajemen lingkungan, etika lingkungan, dan resolusi konflik lingkungan. Sudharto juga menjabat sebagai country coordinator pada Sustainable Energy and Environmental Forum yang berbasis di Universitas Kyoto, Jepang. Selain itu, Sudharto adalah peneliti untuk legal empowerment and industrial pollution di Universitas Leiden, Belanda dan juga Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang serta pengawas di Yayasan Bina Kehidupan Lestari Semarang.
10. Sulistyowati Irianto
Sulistyowati Irianto adalah guru besar antropologi Hukum Universitas Indonesia dan seorang antropolog feminis yang banyak melakukan penelitian terkait isu keadilan bagi perempuan.
Sulistyowati Irianto menyelesaikan pendidikan master di Universitas Leiden, Belanda, dan saat ini aktif mengajar di Universitas Indonesia dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Sulistyowati juga pernah menjabat sebagai ketua Program Pascasarjana Multidisiplin Universitas Indonesia pada 2013-2016.
Ia banyak melakukan penelitian terkait antropologi hukum di Indonesia, yang menurutnya bermanfaat untuk memperluas pandangan dan pertimbangan kebijakan para penegak hukum dalam menyelesaikan kasus-kasus yang terkait dengan masyarakat adat.
11. Tubagus Furqon Sofhani
Tubagus Furqon Sofhani adalah ahli perencanaan wilayah dan pedesaan Institut Teknologi Bandung (ITB). Menyelesaikan S2 di Institute of Social Studies di Den Haag, Belanda, dan S3 di Universitas Illinois, Amerika Serikat, Tubagus Furqon Sofhani pernah menjabat sebagai anggota Komisi Perencanaan Kota Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat.
Selain itu, dirinya juga pernah menjabat sebagai kepala Pusat Penelitian Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah ITB pada 2017. Pada periode 2018-2020, Tubagus Furqon Sofhani menjabat sebagai ketua Program Magister Kajian Pembangunan di Fakultas Perencanaan Arsitektur dan Pengembangan Kebijakan ITB. Jurnal dan penelitian ilmiahnya banyak membahas tentang pengaruh peningkatan kapasitas komunitas dalam membangun hutan sosial hingga kota kreatif.

