Bertaruh Nyawa Untuk Belerang
Oding, 42 tahun (jaket merah) dan Lukman beristirahat melahap bekal yang dibawa dari rumah usai menambang belerang dengan berat mencapai 80kg. Kedua penduduk asli di lereng Ijen ini mendaki sejak pukul 1 dini hari untuk mencapai bibir kawah di ketinggian 2,386 mdpl.
Mereka kemudian menuruni lereng terjal menuju tepian kawah sejauh 200 meter dengan medan yang sulit karena terpaan uap sulfatara yang suhunya bisa mencapai 200º C, jalan bebatuan yang terjal dan akhirnya menambang belerang kemudian memikul belerang dengan berat 70-80kg sekali jalan ke atas kawah. Di sinilah mereka beristirahat. Bisa dibayangkan resiko pekerjaan mereka. Kawah Ijen dilaporkan menelan korban 70 orang dalam kurun waktu 40 tahun. Air di danau Ijen ini memiliki tingkat keasaman yang sangat tinggi dengan kadar PH 0 atau tak terukur hingga 0,8. Bisa dibayangkan bila makhluk hidup terjatuh ke danau.
Tak ada jaminan keselamatan bagi para pekerja tambang belerang ini. Mereka hanya menggunakan APD seadanya, bahkan tanpa masker industri yang harganya cukup mahal untuk mereka. Oding mengaku mendapatkan uang sebesar 100-200 ribu rupiah per hari tergantung belerang yang bisa mereka bawa ke bawah. Mereka hanya menggunakan masker kain sekedarnya. Sementara uap belerang dapat mengganggu pernafasan.
Para penambang beberapa tahun yang lalu menerima bantuan oleh pemerintah berupa gerobak untuk membawa hasil tambang mereka ke lereng gunung. Gerobak ini juga sebagian difungsikan sebagai ojek bila ada wisatawan yang tidak kuat mendaki. Sekali jalan mendaki, tarifnya 800 ribu rupiah pada musim libur. Satu gerobak membawa satu penumpang dan ditarik satu penambang dan dua penambang mendorong dari belakang. Jadi total ada tiga orang melayani gerobak berisi satu orang.
Jalan untuk menuju kawah Ijen sebagian besar berupa jalan tanah yang lebar dan bisa dilalui dengan sepeda motor trail dengan mudah tetapi untuk menjaga kelestarian hanya motor petugas saja yang diperbolehkan, itupun dalam kondisi darurat untuk pertolongan. Malam itu adalah malam Minggu, (29/07/2023), banyak pendaki berkelompok tiga hingga sepuluh orang per group sehingga suasana menuju kawah Ijen riuh rendah dengan lampu senter. Diperkirakan ada sekitar 1000 pengunjung pada malam itu.
Tambang belerang (sulfur) di Kawah Ijen, Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu penghasil belerang terbesar di Indonesia, meski demikian mengutip laman ESDM, dari total 14 ton belerang yang bisa ditambang setiap hari, jumlah tersebut hanya 20% dari total potensi yang disediakan oleh alam. Belerang menjadi bahan dasar untuk berbagai keperluan mulai dari kosmetik, pemutih gula, bahan dasar untuk sabun hingga mesiu untuk peluru. Valuasi dari tambang tradisional di kawah Ijen ini diperkirakan mencapai lebih dari 6 milyar rupiah/tahun karena berdasarkan penelitian Latifatul Khoiriyah dan Rika Harini dari Universitas Gajah Mada pada tahun 2015 saja sudah tercapai Nilai Ekonomi Total (NET) sebesar 4,293,452,548 rupiah/tahun.

