Profil Prabowo Subianto: Jenderal Petarung Langganan Pilpres
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto kembali maju di pemilihan presiden (pilpres). Menggandeng Wali Kota Solo yang juga anak Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka, Prabowo maju sebagai capres di Pilpres 2024 dengan didukung sembilan partai. Selain partai yang dipimpinnya, Partai Gerindra, pasangan Prabowo-Gibran juga didukung Partai Golkar, PAN, Partai Demokrat, PSI, PBB, Prima, Partai Gelora, dan Partai Garuda.
Prabowo yang berlatar belakang militer dengan jabatan terakhir panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) berpangkat letnan jenderal, pertama kali terjun ke politik praktis dengan mengikuti konvensi calon presiden (capres) yang digelar Partai Golkar pada 2004. Namun, langkah Prabowo tak berlanjut lantaran kalah dari Wiranto. Kekalahan itu tak menyurutkan langkah Prabowo di dunia politik. Bahkan, sejak saat itu, Prabowo tak pernah absen bertarung di pilpres.
Baca Juga
Profil Prabowo Subianto
Prabowo Subianto yang lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951 berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo merupakan ekonom yang pernah menjabat sebagai menteri perdagangan dan industri, menteri keuangan, dan menteri riset di era Orde Lama maupun Orde Baru. Sementara kakeknya, Margono adalah direktur utama pertama Bank Negara Indonesia (BNI), dan mantan ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS).
Selain itu, dua paman Prabowo, yakni Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna Soejono Djojohadikoesoemo merupakan pejuang yang gugur saat Pertempuran Lengkong di Tangerang Selatan pada 1946.
Sementara, ibu Prabowo, Dora Marie Sigar juga berasal dari kalangan atas. Kakek Prabowo dari garis ibu, Philip F L Sigar, dan merupakan seorang anggota Dewan Kota atau Gemeenteraad Manado dan pejabat Sekretaris Residen (Gewestelijk Secretaris) Manado.
Prabowo menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah tempat di luar negeri mengikuti dinas sang ayah. Prabowo menyelesaikan sekolah menengah atasnya di American School di Inggris.
Baca Juga
Harta Prabowo, Ganjar, dan Anies Diunggah KPK, Siapa Capres Terkaya?
Karier Militer
Prabowo memulai perjalanan hidupnya di dunia militer pada usia 19 tahun dengan masuk Akademi Militer Nasional (AMN) atau Akmil di Magelang, Jawa Tengah pada 1970 dan lulus pada 1974. Dua tahun kemudian, Prabowo bergabung dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Karier militer Prabowo banyak dihabiskan di pasukan elite TNI Angkatan Darat (AD) itu hingga menjadi Danjen Kopassus pada 1995.
Salah satu keberhasilan Prabowo sebagai Danjen Kopassus adalah operasi pembebasan sandera Mapenduma pada 1996. Operasi Mapenduma merupakan operasi militer untuk membebaskan peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Prabowo yang menikah dengan Siti Hediyati Hariyadi atau Titiek Soeharto pada 1983 kemudian menjabat sebagai panglima Kostrad pada Maret 1998. Namun, situasi politik saat itu memanas hingga Soeharto lengser. Tak hanya itu, pergolakan politik yang melahirkan reformasi itu juga berimbas pada Prabowo.
Dewan Kehormatan Perwira yang diketuai oleh Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo dan dianggotai oleh enam orang letnan jenderal, yakni Fachrul Razi, Djamari Chaniago, Arie J Kumaat, Agum Gumelar, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Yusuf Kartanegara memutuskan pemberhentian dari dinas keprajuritan terhadap Prabowo terkait penculikan aktivis dan lainnya.
Setelah tak berkarier di militer, Prabowo menetap di Yordania dan Jerman menekuni dunia bisnis bersama adiknya, Hasyim Djojohadikusumo yang lebih dahulu menjadi pengusaha.
Karier Politik
Prabowo kembali muncul ke publik setelah 7 tahun dengan maju dalam konvensi capres Partai Golkar. Namun, Prabowo hanya meraih 39 suara atau terendah dibanding empat calon lainnya, yakni Wiranto, Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Surya Paloh.
Gagal di Golkar, Prabowo mendirikan Partai Gerindra pada 2008. Melalui partai itu, Prabowo kembali mencoba peruntungan di Pilpres 2009 dengan menjadi cawapres mendampingi Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Pasangan ini kalah dari pasangan SBY-Boediono. Meski demikian, suara Partai Gerindra melonjak pada Pemilu 2014 dengan meraih 11,8% suara dari sebelumnya 4,5%. Hasil itu menempatkan Gerindra sebagai tiga besar di bawah PDIP dan Golkar.
Hasil Pemilu 2009 itu menjadi modal Prabowo maju di Pilpres 2014 sebagai capres dengan menggandeng Hatta Rajasa yang saat itu merupakan ketua umum PAN. Berhadapan head to head dengan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK), pasangan Prabowo-Hatta kalah dengan raihan 46,85%.
Baca Juga
Ada RK, Demul, dan Susi Pudjiastuti, Gerindra Yakin Prabowo-Gibran Raup 65% di Jabar
Pada Pilpres 2019, Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno kembali bertarung dengan Jokowi yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin. Namun, Prabowo lagi-lagi kalah.
Hasil Pilpres 2019 itu seakan menjadi pelajaran penting dalam sikap politik Prabowo. Setelah Pilpres 2019 yang membuat suhu politik panas hingga masyarakat nyaris terbelah, ayah dari Didiet Maulana itu bergabung dengan pemerintahan Jokowi dengan menjabat sebagai menteri pertahanan.
Dalam berbagai kesempatan Prabowo menjelaskan alasannya bergabung pemerintahan Jokowi. Saat konsolidasi akbar di Velodrome, Jakarta Timur pada 16 Juli 2023 misalnya, Prabowo mengaku memiliki hati dan cita-cita yang sama dengan Jokowi, yakni NKRI.
"Kenapa saya bergabung dengan Pak Jokowi? Kenapa saya sekarang berjuang bersama beliau? Karena setelah saya berinteraksi sama beliau, walaupun kita pernah rival, walaupun kita berseberangan dulu, kita berkompetisi, dan walaupun saya dikalahkan dua kali, tapi saya merasa beliau hatinya sama dengan saya, beliau cinta merah putih,” kata Prabowo kala itu.
Bahkan, Prabowo menyebut Jokowi sebagai guru politiknya. Menurutnya, Jokowi seorang negarawan karena mengajak dirinya yang merupakan rival politik untuk bersama membangun Indonesia.
"Sekali lagi Pak Jokowi terima kasih contoh yang Bapak berikan sikap negarawan Bapak, bapak mengalahkan saya, tapi Bapak mengajak saya untuk bersama,” kata Prabowo saat HUT ke-59 Partai Golkar, Senin (6/11/2023).
Tak hanya itu, gaya politik Prabowo pun saat ini lebih luwes. Prabowo mengaku banyak meniru Jokowi. Salah satunya dengan membagikan kaus saat berkeliling ke daerah. Prabowo mengatakan, kekalahan dalam dua kali pilpres membuatnya mengubah gaya berpolitik.
"Banyak yang mengatakan saya berubah. Bagaimana tidak berubah, dua kali dikalahkan ya terpaksa berubah. Jadi sekarang, Pak Jokowi, kalau saya kelling, saya juga bagi-bagi kaus. Terima kasih sekali lagi Pak," katanya.
Di Pilpres 2024 kali ini, Prabowo mengajak putra sulung Jokowi untuk mendampinginya. Meski sempat diwarnai kontroversi lantaran putusan MK mengenai uji materi usia capres cawapres, Prabowo-Gibran telah resmi menjadi pasangan capres-cawapres dengan nomor urut 2. Akankah Pilpres 2024 berpihak pada Prabowo?
Harta Kekayaan
Seperti di pilpres edisi sebelumnya, Prabowo menjadi capres terkaya. Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang disampaikan kepada KPK, Prabowo Subianto mengaku memiliki harta Rp 2,04 triliun. Harta Prabowo didominasi surat berharga dengan nilai total Rp 1,7 triliun.
Baca Juga
Hasil Undian: Anies-Cak Imin Nomor 1, Prabowo-Gibran Nomor 2, dan Ganjar-Mahfud Nomor 3
Prabowo juga mengaku memiliki 10 bidang tanah dan bagunan di Bogor dan Jakarta Selatan dengan nilai total Rp 275,3 miliar. Untuk transportasi, Prabowo mempunyai tujuh unit mobil dan satu unit motor senilai Rp 1,25 miliar.
Prabowo juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp 16,4 miliar serta kas dan setara kas senilai Rp 47,8 miliar. Prabowo mengaku tidak memiliki utang. Dengan demikian, total harta Prabowo sebesar Rp 2,04 triliun.

