SDA Melimpah Tapi Tertinggal di Pemanfaatan EBT, Ada Masalah Apa
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia saat ini tengah menerapkan pemanfaatan EBT (Energi Baru Terbarukan) sebagai bagian dari transisi energi untuk mendukung Net Zero Emission pada tahun 2060. Sayangnya, di tengah ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan EBT.
Disampaikan Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gajah Mada, Fahmy Radhy, Indonesia memiliki resources (SDA) yang besar seperti energi angin, energi matahari, dan panas bumi. Bahkan Indonesia disebut sebagai penghasil geothermal atau panas bumi kedua terbesar di dunia setelah Rusia.
Sementara itu data dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) disebutkan Indonesia memiliki potensi EBT sebesar 3.686 GW yang terdiri atas energi surya, hidro, bioenergy, energi bayu, panas bumi, dan laut.
Baca Juga
Ganjar Pranowo Tegaskan Pentingnya EBT untuk Pembangunan Desa Mandiri Energi
“Sudah ada pembangkit energi sinar matahari, energi angin, micro hydro, dan juga panas bumi. Selain itu, Pertamina dan PLN juga telah melakukan eksplorasi energi dari panas bumi,” ujar Fahmy saat dihubungi Investortrust.id pada Senin (05/12/2023). Sayangnya, kata Fahmy, pemanfaatannya masih realtif kecil.
Ia menyebut beberapa kelemahan yang dihadapi Indonesia dalam penerapan EBT. Salah satunya adalah minimnya dana investasi, teknologi yang masih tertinggal, hingga persoalan seputar perizinan.
“Indonesia memiliki resource yang besar tapi output-nya masih kecil. Kelemahan yang dihadapi Indonesia adalah tidak adanya kecukupan dana, teknologi untuk mengolah yang kurang maju, serta banyaknya masalah perizinan,” ujarnya.
Dengan target bauran EBT 2025 sebesar 23%, Fahmy menilai target tersebut sulit dicapai. Sekadar catatan saat ini capaian bauran EBT baru sebesar 16%. Sehingga ia menekankan perlunya komitmen dan usaha yang serius dari pemerintah serta BUMN untuk mengembangkan EBT. Dibutuhkan pula sinergi antara pemerintah dan BUMN untuk mencapai target bauran EBT di 2025 dan mendukung Net Zero Emission di 2060.
Baca Juga
Demi Energi Bersih, 75% Tambahan Pembangkit PLN Berbasis EBT
“Tanpa adanya komitmen dan dorongan ini akan sulit. Kalau PLN dan Pertamina tidak didukung, maka mereka akan bertahan pada energi fosil,” paparnya.
Fahmy menegaskan bahwa pemerintah memiliki peran yang besar dalam mendukung pemanfaatan EBT, salah satunya dengan mengatasi keterbatasan dana yang dialami BUMN. Ia menilai pemerintah harus berkomitmen untuk mencarikan sumber dana atau mendorong masuknya investor untuk bekerja sama.
“Agar investor mau masuk ke dalam pemanfaatan EBT, pemerintah harus memberikan kemudahan secara fiskal seperti insentif untuk investasi,”jelas Fahmy.
Fahmy berharap pemerintahan baru yang terpilih pada Pilpres 2024 memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung capaian target bauran EBT, karena resources Indonesia yang berlimpah. Dengan begitu akan tumbuh optimisme bahwa Indonesia dapat menyusul ketertinggalan dari negara-negara Asia yang telah memanfaatkan EBT secara maksimal. (CR-4)

