Caleg Perlu Dalami Urgensi Isu Perubahan Iklim
JAKARTA, Investortrust.id - Program Manager Clean, Affordable and Secure Energy (CASE) Institute for Essential Services Reform (IESR) Agus Tampubolon menyebut isu perubahan iklim dan transisi energi menjadi perhatian pemilih dari generasi milenial. Untuk itu, para politisi yang berebut suara dalam pemilihan calon legislatif (caleg) perlu memperjuangkan isu perubahan iklim.
“Calon pemilih pada 2024 nanti adalah generasi milenial yang peduli isu ini (perubahan iklim). Sayang sekali jika para caleg tidak mengangkat isu ini, bahkan kalau sampai tidak tahu,” kata Agus, kepada Investortrust.id, Kamis (16/11/2023).
Agus mengatakan lembaganya telah menyiapkan panduan untuk partai politik untuk mendalami isu perubahan iklim. Panduan yang dibuat berdasarkan studi tersebut diharapkan dapat membuat politisi memahami urgensi isu perubahan iklim.
Baca Juga
Peneliti: Isu Perubahan Iklim Harus Jadi Landasan Kebijakan Ekonomi Pemerintah 2024
“Jadi dalam program-programnya, sudah mulai memunculkan dan memaparkan visi mengenai perubahan iklim,” kata dia.
Dalam panduan isu perubahan untuk politisi yang diterbitkan Monash University dengan judul Navigasi Isu Perubahan Iklim di Pemilu 2024 terdapat poin penting, di antaranya, fakta penting perubahan iklim, keuntungannya bagi politisi, hingga kebijakan adaptasi perubahan iklim.
Buku tersebut juga menyajikan praktik komunikasi perubahan iklim dalam kampanye di sejumlah negara.
Isu perubahan iklim menjadi faktor penentu pada kemenangan dua politisi. Mereka adalah Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva.
Baca Juga
Sri Mulyani: Angka Kemiskinan Global Melonjak 100 Juta Orang per Tahun akibat Perubahan Iklim
“Dua politisi ini tercatat berhasil meraih kemenangan suara pada pemilu 2022 dengan fokus pada solusi perubahan iklim saat kampanye,” tulis buku tersebut.
Kampanye di Australia dan Brasil
Contoh kasus Anthony di Australia, fenomena perubahan iklim dibicarakan semasa kampanye karena terjadinya gelombang panas yang memicu kemarau ekstrim, gagal panen, kebakaran ekstrem, dan hujan ekstrem di mana 70% curah hujan setahun hanya terjadi dalam tiga hari.
Anthony sadar betul jika isu perubahan iklim merupakan rapor merah bagi Australia di mata dunia. Isu lingkungan yang diusung pun relevan dengan kebutuhan masyarakat Australia.
Narasi yang disajikan Anthony dengan judul Powering Australia membahas proses transisi dari industri batubara ke energi terbarukan akan menciptakan lapangan kerja, tagihan listrik, dan mengurangi emisi.
Baca Juga
Gawat! Posisi Indonesia sebagai Produsen Kopi Bisa Tergusur akibat Perubahan Iklim
Beralih ke Brasil, Lula da Silva memenangkan pemilihan umum pada 2022 dengan janji kampanye untuk mengakhiri penggundulan hutan dan deforestasi Amazon.
Kampanye Lula tersebut dianggap penting bagi pemilihnya karena pendahulunya, Jair Bolsonaro memangkas dana badan lingkungan. Akibat kebijakan ini, penindakan hukum atas perusakan lingkungan menurun drastis.
“Keputusan da Silva memasukkan Amazon sebagai pusat narasi perubahan iklim sangat tepat. Peran Brasil di panggung dunia terkait kebijakan perubahan iklim sangat besar karena keberadaan Amazon,” tulis buku tersebut. (CR-7)

