Peneliti: Isu Perubahan Iklim Harus Jadi Landasan Kebijakan Ekonomi Pemerintah 2024
JAKARTA, investortrust.id - Transisi energi menjadi isu penting dalam perubahan iklim. Topik ini kembali mencuat menjelang pemilihan umum (pemilu) 2024.
Dosen program studi Sustainable Energy and Environment, Swiss German University, Dr. Hery Sutanto mengatakan transisi energi dapat menjadi landasan kebijakan ekonomi dari pemerintah terpilih dari pemilu 2024.
“Dari siapapun yang memenangkan pemilu,” kata Hery, kepada investortrust.id, di Ruang Djunaedi Hadisumarto, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta Pusat, Kamis (16/11/2023).
Menurut Hery, sebagai peneliti dan akademisi, pemerintah dari hasil pemilu 2024 perlu menggaungkan isu transisi energi secara lebih kencang. Dengan arahan dari pemerintah, isu transisi energi menjadi topik yang tidak kalah dengan isu ekonomi umum seperti harga sembako.
“Dan juga perlu dinaikkan menjadi visi negara,” ucap dia.
Baca Juga
Sri Mulyani: Angka Kemiskinan Global Melonjak 100 Juta Orang per Tahun akibat Perubahan Iklim
Transisi energi yang menjadi visi negara, kata dia, bisa membuat penjabarannya menjadi lebih detail. Dengan begitu, regulasi yang muncul bisa dapat dipahami tujuannya oleh masyarakat.
Hery mengatakan selain transisi energi, pemerintah terpilih 2024 perlu meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya isu perubahan iklim. Menurutnya, masyarakat bukan hanya diajak bicara dampak lingkungannya, tapi bisa diajak menjaga lingkungan ke depan dan masa depannya.
“Jadi bukan hanya tidak membuang sampah sembarangan, tapi juga bagaimana memahami produk yang bisa menambah emisi karbon,” ujar dia.
Baca Juga
Gawat! Posisi Indonesia sebagai Produsen Kopi Bisa Tergusur akibat Perubahan Iklim
Rekomendasi lain yang dapat dikerjakan pemerintah ke depan yaitu menyosialisasikan regulasi secara lebih mudah. Sebab, bahasa dalam bentuk peraturan pemerintah dan peraturan menteri jarang dibaca masyarakat. Selain itu, saat ini, isu perubahan iklim dan transisi energi juga masih menjadi pembahasan di lingkup yang kecil, misalnya dunia akademisi.
“Cara-cara seperti stand up comedy atau melalui media sosial dengan audio visual yang lebih menarik bisa menjadi cara. Mungkin juga perlu brand ambassador transisi energi ke energi terbarukan,” kata dia. (CR-7)

