Bahlil Akui Secara Teori BBM Harusnya Naik, tapi Prabowo Beri Satu Syarat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) meski beban subsidi membengkak jauh melampaui asumsi APBN. Keputusan itu diambil setelah ia berkonsultasi langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.
Bahlil menjelaskan, secara teori ekonomi, harga BBM idealnya disesuaikan. Namun, ia menyampaikan kepada Presiden bahwa kondisi saat ini belum tepat untuk menaikkan harga.
"Memang secara ideal itu harus kita naikkan. Tetapi Partai Golkar berkomitmen untuk dalam kondisi seperti sekarang, belum waktunya untuk kita naikkan harga BBM," kata Bahlil dalam acara Tasyakuran HUT ke-62 Partai Golkar di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Menurut dia, kenaikan harga BBM akan menimbulkan dampak luas bagi masyarakat. Ia mengaku sempat ada saran dari sejumlah tokoh politik, termasuk dari lingkungan Golkar, agar harga dibuka mengikuti mekanisme ekonomi.
Subsidi Membengkak
Bahlil memaparkan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 91 hingga 92 dolar AS per barel. Angka itu jauh di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel.
Akibatnya, kebutuhan subsidi energi melonjak menjadi sekitar Rp 730 triliun hingga Rp 750 triliun, dari asumsi dalam APBN yang berkisar Rp500 triliun.
Baca Juga
Geopolitik Bergejolak, Kementerian ESDM Wanti-wanti Beban Subsidi Energi Bisa Bengkak Rp 300 Triliun
"Sekalipun sekarang rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan Oktober sekarang itu sudah mencapai 91 sampai 92 dolar per barel. Padahal di APBN itu 70 dolar," ujarnya.
Presiden Minta Cari Pendapatan Tambahan
Bahlil mengatakan, Presiden Prabowo, yang disebutnya sebagai alumni Partai Golkar, menyetujui sikap untuk tidak menaikkan harga BBM. Namun, Kepala Negara memberi syarat agar ada sumber pendapatan tambahan untuk menutup defisit akibat penambahan subsidi.
"Bapak Presiden memerintahkan juga kepada saya, 'Kalau kamu tidak mau naikkan, carikan sumber pendapatan tambahan untuk menutupi defisit daripada penambahan subsidi'," tutur Bahlil menirukan arahan Presiden.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga menyinggung kondisi global yang tidak stabil. Ia menyebut dinamika geopolitik yang memengaruhi Paris, serta tingginya pergerakan sosial di Italia dan sejumlah negara Eropa lain, sebagai respons terhadap naiknya biaya kebutuhan sehari-hari.
Menurut Bahlil, dampak situasi tersebut juga dirasakan di Indonesia. Meski begitu, ia menegaskan kader Golkar yang ditugaskan di kabinet akan terus mengedepankan kepentingan rakyat, khususnya di sektor BBM.
"Kita sebagai kader Partai Golkar yang ditugaskan di kabinet, selalu berpikir untuk mengedepankan apa yang menjadi terbaik untuk rakyat," kata Bahlil.
Turut hadir pada acara tersebut sejumlah anggota Kabinet Merah dari Partai Golkar, antara lain Menteri Perindustrian Sarmuji, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri P2MI Mukhtarudin, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, serta Menkomdigi Meutya Hafid.
