Anindya: Industri Kesehatan Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, Investortrust.id — Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai industri kesehatan berpotensi menjadi salah satu motor untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia dari kisaran 5% menuju 8%. Peluangnya mencakup investasi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri, serta peningkatan produktivitas masyarakat.
Anindya menyampaikan pandangan tersebut dalam Kadin Monthly Economic Diplomacy Breakfast di Aula Leimena, Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Jumat (09/10/2026). Ia mengajak dunia usaha dan negara-negara mitra menempatkan kesehatan sebagai salah satu pilar utama kerja sama ekonomi dengan Indonesia. “Ketika kita berbicara tentang kesehatan, inilah sektor yang menurut kami akan membantu Indonesia bergerak dari pertumbuhan 5% menjadi 6%, 7%, hingga 8%,” ujar Anindya.
Dalam sambutannya, Anindya menyebut nilai aktivitas ekonomi terkait sektor kesehatan Indonesia mencapai sekitar US$60 miliar per tahun. Ia meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengoreksi angka tersebut apabila diperlukan. Menurut dia, besarnya potensi kesehatan juga perlu dilihat dari dampak berganda yang dihasilkan terhadap perekonomian.
Baca Juga
Menkes: Jangan Biarkan Negara Lain Menikmati Pasar Kesehatan Indonesia
“Kadin bergerak di bidang perdagangan, industri, dan investasi,” katanya. Karena itu, pengembangan sektor kesehatan menjadi bagian penting dari agenda dunia usaha untuk memperluas kegiatan ekonomi sekaligus mendukung pembangunan nasional.
Forum tersebut dihadiri Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady, para duta besar, serta perwakilan dunia usaha. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir diwakili Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, yang menyampaikan sambutan dan salamnya kepada peserta.
Anindya juga menyampaikan bahwa para ketua Kadin dari 38 provinsi hadir dalam pertemuan tersebut. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk membuka hubungan langsung dengan komunitas diplomatik, mengingat semakin banyak peluang pengembangan ekonomi dan investasi tumbuh di daerah.
Menurut Anindya, hubungan antara kesehatan dan pertumbuhan ekonomi semakin penting seiring perluasan program pemerintah. Ia mencontohkan program Cek Kesehatan Gratis yang, berdasarkan angka yang disampaikannya, telah menjangkau sekitar 70 juta orang pada 2025.
Ia menyebut capaian tersebut sebagai langkah besar dalam memperluas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kadin mendukung program itu dan menempatkannya sebagai bagian dari agenda hasil cepat organisasi.
Baca Juga
Dukung Budi Sadikin Pimpin WHO, James Riady: Saat Indonesia Berkontribusi untuk Dunia
Tema pertemuan, Building National Health Systems, Growing Regional Resilience to Scale Global Impact, dinilai tepat untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan kesehatan nasional dengan peluang kolaborasi internasional. Penguatan sistem di dalam negeri diharapkan turut meningkatkan ketahanan kawasan dan memperluas kontribusi Indonesia bagi kesehatan global.
Anindya menjelaskan, Kadin telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan dalam sejumlah agenda. Ia menyebut partisipasi Budi Gunadi Sadikin dan James Riady dalam One Health Summit di Prancis pada April 2026 sebagai salah satu kesempatan untuk membahas pengembangan industri kesehatan serta arah investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya, menurut Anindya, Kadin bersama Kementerian Kesehatan meluncurkan laporan Health is the New Wealth pada Juli 2026. Ia mengajak para duta besar dan perwakilan negara mempelajari laporan tersebut untuk memahami peluang pengembangan sektor kesehatan Indonesia.
Anindya juga menyampaikan rencana Indonesia menjadi tuan rumah forum keempat WHO tentang produksi lokal atau World Local Production Forum di Bali pada 2027. Agenda tersebut, menurut dia, menjadi kesempatan untuk memperkuat keterlibatan Indonesia dalam kerja sama kesehatan internasional.
“Saya mengundang para duta besar dan perwakilan negara yang hadir untuk menjadikan kesehatan sebagai pilar yang lebih kuat dalam kemitraan dengan Indonesia,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anindya menegaskan dukungan Kadin terhadap pencalonan Budi Gunadi Sadikin sebagai Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ia mengajak komunitas diplomatik dan dunia usaha membantu memperkenalkan pencalonan tersebut kepada para pemimpin negara masing-masing.
Baca Juga
Di Rakornas Kadin, Kementerian UMKM Ungkap Tantangan Terbesar Kenaikan Kelas 59 Juta Pelaku Usaha
Menurut Anindya, kesempatan bagi Indonesia untuk menempatkan tokohnya di pucuk kepemimpinan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa perlu diperjuangkan bersama. Ia menyatakan optimisme terhadap peluang Budi, sekaligus menekankan pentingnya dukungan internasional. “Kali ini kami yakin bisa berhasil. Namun, kami membutuhkan bantuan Anda,” katanya kepada para duta besar dan perwakilan negara.
Anindya menempatkan penguatan kemitraan kesehatan dalam agenda keterlibatan global Kadin yang lebih luas. Untuk mendukung intensitas hubungan internasional, Kadin membentuk Global Engagement Office guna mengoordinasikan berbagai kunjungan dan tindak lanjut kerja sama.
Ia mencontohkan keterlibatan Kadin dalam forum bisnis BRICS pada September 2026. Dalam forum tersebut, Kadin mendorong penguatan perdagangan antaranggota, terutama kerja sama Selatan-Selatan, sekaligus pengembangan usaha bersama dan proyek konkret.
Menurut Anindya, kerja sama internasional perlu diterjemahkan menjadi kegiatan usaha yang menghasilkan investasi dan manfaat ekonomi. Semangat serupa juga mendasari keterlibatan Kadin dalam agenda keberlanjutan, transisi energi, serta pengembangan rantai pasok mineral kritis dan industrialisasi.
Di dalam negeri, Anindya menyoroti pembaruan undang-undang Kadin sebagai kesempatan memperkuat peran organisasi sebagai mitra pemerintah. Ia menjelaskan, kerangka hukum Kadin telah berusia hampir empat dekade, sementara dunia usaha menghadapi perubahan besar akibat digitalisasi, pergeseran rantai pasok global, industrialisasi hijau, dan kecerdasan buatan.
Baca Juga
UU Ketenagakerjaan Disahkan, Kadin: Pengusaha Juga Butuh Perlindungan Hukum
Dalam pembaruan tersebut, Kadin berharap dapat berperan lebih erat sejak tahap perencanaan pembangunan dan penganggaran, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten. Tujuannya agar kebutuhan pengembangan dunia usaha dan arah kebijakan pemerintah dapat diselaraskan sejak awal.
Kadin juga berharap memperkuat kerja sama dengan kementerian yang menangani hubungan luar negeri, perdagangan, dan investasi untuk mengoptimalkan jaringan promosi ekonomi Indonesia di mancanegara. Namun, Anindya menegaskan organisasi yang dipimpinnya ingin tetap independen dan membangun kemandirian pembiayaan tanpa bergantung pada anggaran pemerintah.
Ia mengaitkan kemitraan tersebut dengan gagasan Indonesia Incorporated, yakni kerja bersama pemerintah, sektor swasta, dan komunitas diplomatik untuk memperkuat perekonomian. Dalam sektor kesehatan, kolaborasi itu diharapkan memperluas investasi sekaligus meningkatkan kemampuan Indonesia memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Kadin siap membangun kemitraan, memperkuat sektor kesehatan Indonesia, dan berkontribusi bagi kawasan yang lebih sehat dan tangguh,” ujar Anindya.
