Arsitektur Ketidakpikiran: Seni Menidurkan Hati Nurani di Era Mesin Birokrasi
Oleh: Sudarsono Soedomo - Guru Besar Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan dan LIngkungan IPB University
INVESTORTRUST - Kita sering kali membuat kesalahan fatal dengan mengira bahwa kejahatan dan kerusakan besar di dunia ini selalu digerakkan oleh orang-orang jahat yang bersembunyi di balik topeng monster. Kita salah. Sejarah, dan realitas di sekitar kita hari ini, membuktikan bahwa kerusakan paling sistematis justru dilakukan oleh orang-orang yang tampak sangat normal, sangat patuh, dan yang paling mengerikan: mereka tidur dengan nyenyak di malam hari.
Ekonom Carlo M. Cipolla pernah memperingatkan kita tentang "Hukum Dasar Kebodohan Manusia". Ia mendefinisikan orang bodoh bukan dari rendahnya IQ, melainkan dari perilakunya: mereka yang menyebabkan kerugian bagi orang lain tanpa mendapatkan keuntungan apa pun untuk dirinya sendiri. Cipolla menyebut mereka berbahaya karena tindakan mereka tidak rasional dan tidak dapat diprediksi.
Namun, ketika "kebodohan" ini masuk ke dalam struktur kekuasaan dan birokrasi, ia bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih halus dan lebih mematikan. Filsuf Hannah Arendt, saat mengamati pengadilan Adolf Eichmann—salah satu arsitek logistik Holocaust—tidak menemukan sosok iblis yang membenci orang Yahudi. Yang ia temukan adalah seorang birokrat biasa yang menderita thoughtlessness (ketidakpikiran). Eichmann tidak pernah bertanya, "Apakah yang saya lakukan ini secara moral benar?" Ia hanya bertanya, "Apakah saya menjalankan tugas saya dengan efisien? Apakah saya mematuhi prosedur?"
Di sinilah letak bahaya yang sebenarnya: ketika manusia berhenti berdialog dengan hati nuraninya, dan mendelegasikan moralitasnya kepada prosedur.
Fenomena ini bukanlah anomali sejarah; ia adalah penyakit kronis yang hidup di setiap kantor, lembaga, dan struktur hierarki di mana pun. Kita sering melihatnya dalam bentuk apa yang secara lokal disebut sebagai refleks "menyenangkan atasan" (Asal Bapak Senang). Dalam kondisi ini, seorang individu tidak lagi bertindak sebagai manusia moral yang otonom, melainkan berubah menjadi sekrup dalam sebuah mesin.
Psikolog Stanley Milgram membuktikan hal ini melalui eksperimennya yang mengganggu: manusia biasa dengan mudah mau menyengatkan listrik tegangan tinggi kepada orang lain (meski hanya dalam simulasi), selama ada figur otoritas yang berkata, "Tanggung jawab ada pada saya, lanjutkan." Milgram menyebut ini sebagai agentic state—kondisi di mana seseorang melihat dirinya bukan sebagai agen yang bertanggung jawab atas tindakannya, melainkan sekadar alat pelaksana keinginan orang lain.
Ketika kondisi ini dilembagakan, lahirlah apa yang oleh sosiolog Zygmunt Bauman disebut sebagai jarak moral. Birokrat yang menandatangani kebijakan yang menggusur ribuan orang, atau pejabat yang membungkam suara kritis demi "stabilitas", tidak melihat manusia di hadapan mereka. Mereka hanya melihat angka, kuota, dan target. Empati dimatikan oleh jarak struktural.
Baca Juga
Ketika Semua Pengusaha Ingin Menggaji Buruh Serendah Mungkin
Dan inilah ilusi terbesar yang paling menggelisahkan: Ilusi Ketidakbersalahan.
Seorang penjahat biasa tahu bahwa ia berbuat salah, sehingga ia bersembunyi dan dihantui rasa bersalah. Tetapi birokrat yang "berhenti berpikir" ini melakukan kerusakan dengan dada membusung. Mereka merasa sedang berbuat baik, atau setidaknya merasa "sudah melakukan tugasnya". Mereka tidak merasa bersalah karena mereka telah berhasil menidurkan hati nurani mereka. Dalam peta psikologi, ini adalah kemenangan mutlak dari False Self (diri palsu yang hanya ingin aman dan diterima oleh kawanan) atas True Self (diri sejati yang memiliki suara moral).
Mereka membungkam suara kritis bukan karena suara itu salah, melainkan karena suara itu berisik dan mengganggu tidur panjang hati nurani mereka. Menghadapi kritik membutuhkan usaha untuk berpikir, dan berpikir adalah beban yang paling ingin dihindari oleh mereka yang telah memilih untuk menjadi otomat.
Lantas, apa yang harus kita lakukan di tengah arsitektur ketidakpikiran ini?
Hannah Arendt menawarkan satu-satunya antidotum: Thinking (berpikir). Bukan berpikir dalam arti menghitung untung-rugi atau memecahkan soal matematika, melainkan aktivitas "berdialog dengan diri sendiri" (two-in-one). Berpikir adalah keberanian untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menarik diri dari arus kolektif, dan bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya dapat hidup berdamai dengan diri saya jika saya melakukan hal ini?"
Kebodohan kolektif hanya dapat menang jika orang-orang baik ikut mematikan nalar mereka dan melebur dalam kawanan. Melawan arus ini tidak selalu harus dengan berteriak paling keras. Terkadang, perlawanan terbesar adalah dengan tetap tenang, tetap menggunakan akal sehat, dan menolak untuk ikut-ikutan berhenti berpikir. Dan jangan putus asa, karena putus asa merupakan bentuk lain dari "berhenti berpikir".
Di tengah dunia yang semakin geger dan menuntut kita untuk segera menghakimi tanpa memahami, memilih untuk diam sejenak, merenung, dan tetap menulis dengan jernih, bukanlah sebuah pelarian. Itu adalah tindakan moral tertinggi untuk menjaga agar kemanusiaan kita tidak ikut tertidur bersama mesin.
Mungkin, seperti yang diperingatkan Plato 2.400 tahun lalu, kita sedang berada di atas kapal di mana para pelaut telah memabukkan pemiliknya dengan janji-janji manis. Para navigator yang mencoba memperingatkan tentang badai di depan malah dilempar ke laut atau dibungkam. Di tengah kapal yang miring dan kru yang berhenti berpikir ini, satu-satunya tindakan moral yang tersisa bagi mereka yang masih melek adalah: menolak untuk ikut mabuk, menolak untuk ikut membungkam, dan tetap menuliskan peta navigasi yang benar—meskipun saat ini, tidak ada yang mau membacanya.
