Gempa Bumi dan Geothermal
“Gempa Flores merupakan fenomena tektonik alami, bukan akibat geothermal, sekaligus mendorong keterbukaan terhadap pengembangan energi geothermal yang tepat.”
Oleh: Dr Ing Ignasius Iryanto Djou - Wakil Direktur Operasional Politeknik Cristo Re, pemerhati ekonomi dan pendidikan
INVESTORTRUST - Flores lagi bersedih karena gempa dahsyat yang terjadi tanggal 15 Agustus. Ini gejala alam namun juga berdampak secara sosial, ekonomi dan bahkan politik.
Ketika banyak orang lagi mengontak jaringan-jaringan yang bisa membantu mengatasi impak dari bencana itu, ada yang mencoba mengaitkan gempa tersebut dengan proyek geothermal yang berada di Flores.
Singkatnya, tesis kelompok ini adalah, gempa dahsyat ini diakibatkan oleh eksplorasi geothermal di Flores. Sampai saat ini baru dua proyek geothermal yang sudah memproduksi listrik, pertama Ulumbu di Manggarai dan kedua di Sokoria, Kabupaten Ende. Proyek di Daratei Mataloko gagal total dan telah menimbulkan bencana. Saya bingung proyek mana yang dituduh telah menyebabkan gempa bumi dahsyat itu, menurut pendapat para “ahli geothermal” yang mengaitkan itu. Saat ini tesis mereka adalah bahwa seluruh proyek geothermal pasti gagal seperti yang terjadi di Daratei–Mataloko. Daratei adalah satu-satunya referensi yang diulang-ulang oleh kelompok penentang ini. Dan kali ini mereka mencoba membuat satu tesis baru lagi: Gempa bumi dahsyat di Flores ini adalah akibat dari proyek geothermal di Flores.
Lewat sosmed saya berusaha menjelaskan penyebabnya yang benar walaupun bukan geolog atau ahli geothermal. Kemudian muncul banyak sekali tulisan tentang itu justru dari para geolog. Jelas sekali penjelasan mereka bahwa ini murni gejala tektonis alam yang disebut dengan Sesar Naik Flores dan tidak ada kaitan sedikit pun dengan geothermal.
Namun ada adik-adik yang ngotot mengatakan, kae belajar dulu ke Perancis dan Korsel. Saya check dan berdiskusi dengan beberapa sahabat yang adalah praktisi dan ahli tentang geothermal dari ITB dan juga guru besar geothermal dari Universitas Negeri Lampung yang juga adalah sahabat seangkatan di Universitas Gadjah Mada waktu ambil S1 fisika di sana. Keduanya memiliki rekam jejak dalam pemanfaatan geothermal di Indonesia ini. Keduanya jelas bukan ahli dadakan dan amatiran.
Kasus di Korea Selatan dan Prancis
Gempa bumi di Pohang–Korea Selatan pada tanggal 15 November 2017 dan gempa bumi di Strasbourg, perbatasan Perancis dan Jerman, memang dianalisa memiliki keterkaitan dengan geothermal di wilayah tersebut. Dua kasus ini yang membuat para ahli dadakan itu menyimpulkan bahwa Gempa Bumi kemarin itu disebabkan oleh geothermal.
Bagi mereka yang memahami Geofisika mengetahui bahwa dua peristiwa itu disebabkan karena teknologi geothermal yang dipakai di dua tempat itu adalah teknologi EGS: Enhanced Geothermal System, di mana air disuntikan dengan tekanan yang sangat tinggi untuk memicu terjadinya rekahan lokal sehingga air itu mampu menerobos masuk ke titik reservoir geothermal yang ada. Ini memicu rekahan yang merambat ke wilayah yang lebih luas sehingga tidak lagi bersifat lokal yang dapat menstimulasi adanya gempa bumi. Teknologi ini biasa diterapkan di wilayah yang tidak memiliki rekahan alami, sehingga rekahan itu mesti dipicu dengan suntikan air bertekanan sangat tinggi. Di Pohang dan Strasbourg pemicuan terbentuk rekahan itu telah menimbulkan rekahan yang meluas sehingga menimbulkan gempa bumi, walaupun skalanya tidak akan besar.
Teknologi EGS itu tidak diperlukan di Flores, karena kulit bumi kita sudah memiliki rekahan alami tidak dibutuhkan lagi rekahan buatan seperti di Pohang dan Strasbourg itu. Fenomena gempa yang dipicu oleh operasi geothermal tidak mungkin terjadi di Flores karena kita tidak pernah menggunakan sistem geothermal EGS tersebut. Saat ini tidak, ke depan pun tidak.
Mungkin secara positif, bisa ditegaskan bahwa pengalaman di Perancis dan Korea Selatan itu sekaligus memberi pelajaran, jika lapisan kerak bumi memang tidak memiliki rekahan alami, yaa tidak perlu dieksploitasi geothermalnya. Pokoknya EGS terlarang di Flores.
Saya bertekad bahwa ini tulisan terakhir saya mengenai geothermal. Saya tutup dengan tiga statement saya.
Pertama, kasus Daratei adalah kesalahan fatal dalam proses eksplorasi yang tidak pernah terjadi di proyek geothermal lain di bumi ini, karena itu tidak bisa dijadikan acuan untuk menolak seluruh proyek geothermal. Terus-menerus menggunakan Daratei sebagai dasar penolakan hanya menunjukkan kita tidak mampu berdialog dan menutup diri untuk belajar.
Kedua, Tidak benar sama sekali bahwa gempa tektonis tanggal 15 Agustus 2026 itu disebabkan karena proyek geothermal di Pulau Flores. Terus-menerus mengulangi tuduhan ini hanya menunjukkan kepicikan kita. Ada banyak proyek geothermal yang berhasil di dunia maupun di Indonesia ini. Apakah kita bersedia membuka diri untuk melihat contoh dan praktik-praktik yang berhasil atau menutup diri secara total dan tetap menolak dengan acuan tunggal: proyek Daratei Mataloko itu yang eksplorasinya melanggar SOP tersebut?
Geothermal di Dunia
Pembangkit Listrik geothermal, pertama kali dibangun oleh engineer Italia Piero Ginori Conti pada tahun 1911. Kini Italia memiliki 34 pembangkit geothermal yang masih beroperasi dengan sangat aman. Saya yakin banyak biara di Italia juga mendapatkan suplai listrik dari pembangkit geothermal yang berada di Italia.
Negara yang saat ini menggunakan energi geothermal terbesar adalah Amerika Serikat dengan daya total 3,97 GW dan jumlah pembangkit lebih dari 40 pembangkit. Sampai kini tidak ada kabar geothermal merusak kehidupan masyarakat di sana. Jerman juga memiliki 42 pembangkit yang masih beroperasi dan New Zealand mengoperasikan 14 pembangkit dengan alam yang masih asri dan hijau hingga saat ini.
Indonesia sendiri kini menjadi negara kedua yang paling banyak menggunakan geothermal setelah USA. Indonesia telah memiliki 2,4 GW terpasang dengan 18 buah pembangkit yang sedang beroperasi dengan Jawa Barat yang memiliki pembangkit terbanyak. Artinya ada banyak geothermal di luar Flores yang kini beroperasi dan tidak ada satupun memiliki dampak seperti yang terjadi di Daratei Mataloko. Daerah-daerah lain menerima geothermal karena melihat potensinya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Masyarakat Flores umumnya menolaknya secara total karena hanya mau belajar dari Daratei dan menolak belajar dari tempat lain.
Ada dua alasan lain yang juga biasa diungkapkan oleh para penentang. Pertama bahwa Flores juga memiliki sumber energi lain yaitu sinar matahari, air, angin dan juga gelombang laut. Dalam strategi penyediaan energi ada yang disebut base load energy source yang harus mampu men-supply energy secara stabil baik daya maupun frekuensinya dan sumber energy lain yang menjadi unsur pendukung. Jika kita ingin masuk ke era industri, kita harus memiliki base load source ini. Dan itu hanya mungkin dari generator Diesel, PLTU dengan bahan bakar batu bara, geothermal dan reaktor nuklir. Diesel dan PLTU jelas sudah ditinggalkan karena emisi karbonnya yang tinggi, tinggal geothermal dan nuklir. Jika kita menolak geothermal apakah nanti kita mau menerima kehadiran reaktor nuklir di sini? Atau kita memang memutuskan tidak akan pernah masuk ke era industri di Flores ini? Itu pilihan yang ada.
Alasan yang kedua, Flores ini pulau yang sangat kecil jadi terlalu berbahaya jika kita mengeksploitasi energi geothermal. Untuk diketahui bahwa Hawaii itu pulau kecil dan juga jadi titik utama dalam Ring of Fire dunia, namun di sana ada banyak proyek geothermal. Selain itu di Tenerife, Canary Island juga sudah beroperasi satu proyek geothermal, juga di Montserat, Karibia. Ini pulau-pulau yang seukuran dengan Flores.
Pertanyaan yang cukup valid adalah, apakah kita memang membutuhkan 23 titik geothermal di Flores ini untuk dieksplorasi? Menurut saya itu tergantung dari desain pengembangan beban listrik di Flores. Pemerintah juga harus menjamin bahwa eksplorasi geothermal akan diikuti dengan masuknya industri ke sini. Para pemimpin kita mesti tegas bersikap, mungkin kebutuhan kita tidak sebegitu banyak. Namun di sanalah pentingnya untuk duduk berdialog. Hal yang tidak mungkin terjadi jika kita menolaknya secara total dan menganggapnya sebagai keputusan yang sudah final.
Di artikel saya yang terakhir ini, saya mengusulkan untuk membuka diri, melihat dan mempertimbangkan kembali, dengan terlebih dahulu meninjau pembangkit-pembangkit di Indonesia yang beroperasi bagus seperti Lahendong di Minahasa, atau Kamojang di Jawa Barat, Ulubelu di Lampung dan lain-lain. Namun keputusannya kembali ke para pemimpin gereja yang menolaknya dan juga para pemimpin daerah yang walaupun mendukung tidak berhasil meyakinkan para penolaknya.
Sebagai kader Katolik saya akan tetap taat pada para pemimpin gereja, jika setelah melihat dan belajar dari Lahendong kita tetap menolak. Ini adalah tulisan terakhir saya sebagai akademisi yang juga memiliki kewajiban untuk mengungkapkan apa yang benar menurut pertimbangan pengetahuan yang saya peroleh. Jika saya tidak melakukannya saya juga berkhianat terhadap ilmu pengetahuan yang Tuhan sendiri berikan lewat pendidikan yang justru didorong oleh Gereja. Generasi saya sudah berada di fase terakhir dari perjalanan hidup di bumi ini, dan saya tidak yakin bahwa kita bisa beranjak tingkat kesejahteraan kita, jika tetap pada ekonomi subsistem yang kita jalani sejak para leluhur ini. Sekian. Tabe, Salve. ***

