17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Beroperasi, Pemerintah Targetkan Penambahan Jadi 500 Sekolah hingga 2029
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menginformasikan bahwa 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) telah mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026-2027. Sementara itu, 20 lokasi lainnya masih dalam tahap pembangunan.
“Pemerintah menyiapkan 37 lokasi SNT pada 2026 dengan 17 lokasi mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026-2027 dan 20 lokasi lainnya masih dalam tahap pembangunan,” ujar Deputi I Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Bakom RI Fahd Pahdepie di kantornya, Rabu (12/8/2026).
Program SNT akan dilaksanakan secara bertahap pada periode 2026-2029 dengan target menghadirkan 500 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Program ini diharap mampu menghasilkan lebih dari 167.000 lulusan berkualitas dan menjangkau lebih dari 500.000 siswa di 38 provinsi.
Menurut Pahdepie, pelaksanaan secara bertahap dilakukan untuk memastikan pemerataan akses, kualitas penyelenggaraan, serta keberlanjutan program di seluruh wilayah Indonesia.
Khusus tahun ajaran 2026-2027, penyelenggaraan SNT sudah melalui rangkaian Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Pengumuman dan sosialisasi berlangsung pada 21-24 Juni, yang dilanjutkan pendaftaran pada 21-27 Juni.
Selanjutnya, proses seleksi berlangsung pada 27-31 Juli, dan pengumuman hasil seleksi pada 3 Agustus, serta daftar ulang pada 4-7 Agustus. Adapun masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bagi murid baru telah dimulai pada 10 Agustus 2026.
Sebanyak 17 SNT yang beroperasi tahun ini tersebar di sejumlah daerah, yakni Aceh, Jambi, Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, hingga Maluku Utara.
Fasilitas Lengkap
Pemerintah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang sebagai standar yang akan diterapkan di seluruh SNT. Setiap sekolah akan dilengkapi laboratorium sains, fasilitas komputer dan artificial intelligence (AI), laboratorium bahasa, serta lahan pertanian dan peternakan.
Selain itu, SNT akan memiliki studio musik, studio seni rupa, studio tari dan teater, serta auditorium. Fasilitas pendidikan juga mencakup perpustakaan dengan akses e-journal global serta ruang diskusi dan kolaborasi bagi murid.
Guna mendukung kegiatan olahraga, sekolah dilengkapi lapangan sepak bola dan basket, kolam renang terstandar, trek lari, serta fasilitas multifungsi untuk tenis, bulu tangkis, dan voli. Pemerintah juga menyediakan bus atau kendaraan untuk mengantar dan menjemput murid.
Sebagai gambaran kesiapan fasilitas fisik, SNT di kawasan IKN telah memiliki gedung SD, SMP, dan SMA yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 15.100 meter persegi. Lahan ini memiliki status hak pengelolaan Otorita IKN (HPL-OIKN) yang jelas dan bebas sengketa.
Baca Juga
17 Sekolah Nasional Terintegrasi Mulai Beroperasi, 1.360 Murid Jadi Angkatan Pertama
Berdasarkan kondisi lapangan per 18 April 2026, ketiga gedung telah dilengkapi berbagai ruang fungsional yang siap digunakan, mulai dari ruang kelas, laboratorium sains, bahasa, kimia dan komputer, ruang kepala sekolah, ruang guru, tata usaha, perpustakaan, ruang rapat, UKS, bimbingan konseling, aula, musala, toilet, hingga lapangan olahraga.
Khusus gedung SMP dan SMA, fasilitas juga dilengkapi ruang OSIS, gedung olahraga, ruang kesenian, dan ruang koperasi.
Gedung SMP di IKN diklaim aman karena berada sekitar 2,73 kilometer dari sistem kelistrikan PLN dan sekitar 445 meter dari daerah aliran sungai (DAS) terdekat. Kondisi ini membuat potensi gangguan akibat kelistrikan maupun banjir relatif minim. Lokasi tersebut juga berada di zona dengan risiko longsor rendah.
Atasi Ketimpangan
Penyelenggaraan SNT dilatarbelakangi masih rendah dan timpangnya capaian mutu pendidikan nasional. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 30 Juni 2025 dan Rapor Pendidikan 2025 menunjukkan hanya 4% atau 263 dari 7.288 kecamatan di Indonesia yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian mutu baik.
Sekolah yang masuk kategori tersebut merupakan sekolah yang terakreditasi A, memiliki persentase murid di atas ambang minimum 90%, serta mencatat skor literasi dan numerasi di atas 75.
Namun, persebaran sekolah bermutu tersebut masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara itu, Papua baru memiliki empat sekolah bermutu yang tersebar di tiga kecamatan.
Melalui pengembangan SNT hingga 500 satuan pendidikan pada 2029, pemerintah menargetkan adanya pemerataan akses terhadap pendidikan berkualitas sekaligus memperkecil kesenjangan mutu pendidikan antardaerah.

