Kekayaan Negara Bocor Rp 2.500 Triliun per Tahun, Prabowo: Saya Bertekad Hentikan Kebocoran Ini
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan tekadnya untuk menghentikan kebocoran-kebocoran kekayaan negara yang selama ini terjadi. Berdasarkan perhitungan para ahli, Prabowo menyebut, terjadi kebocoran kekayaan negara hingga US$ 150 miliar atau Rp 2.500 tiap tahunnya.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam sambutannya saat penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
"Pemerintah yang saya pimpin, saya bertekad untuk berbuat yang terbaik. Untuk menghentikan kebocoran-kebocoran ini," kata Prabowo.
Baca Juga
Di Munas dan Konbes NU, Prabowo Blak-Blakan Beberkan Biang Kerok Anjloknya Rupiah
Prabowo memaparkan, berdasarkan data yang dirilis PBB melalui United Nations Commodity Trade Statistics Database atau UN Comtrade yang diolah Dewan Ekonomi Nasional (DEN), bangsa Indonesia meraih keuntungan selama 17 tahun dalam 22 tahun terakhir dengan nilai mencapai US$ 436 miliar. Bahkan, kekayaan Indonesia sebenarnya mencapai US$ 683 miliar selama 42 tahun.
Namun, berbagai kekayaan itu tidak dinikmati oleh rakyat Indonesia karena mengalir ke luar negeri. Hal ini yang menyebabkan rupiah melemah belakangan ini.
"Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita, tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita collapse, mati. Begitu kayanya Republik kita. Tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri," kta Prabowo.
Prabowo mengungkapkan, banyaknya kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri disebabkan praktik culas para pengusaha dengan under-invoicing atau laporan palsu. Terdapat pengusaha yang menjual 1.000 ton, tetapi hanya melaporkan 500 ton. Praktik ilegal tersebut membuat Indonesia merugi hingga US$ 908 miliar atau sekitar Rp 15.000 selama 34 tahun.
"Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi. Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB. Kita telah rugi US$ 908 miliar selama 34 tahun atau Rp 15.000 triliun. Rp 15.000 triliun. Saudara-saudara, ini semua data keluar," katanya.
Prabowo mengatakan, kekayaan yang diambil terus menerus membuat Indonesia kekurangan anggaran tiap tahunnya. Hal ini yang menyebabkan gaji guru dan PNS tidak bisa baik.
"Kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang? Iya kan. Karena uangnya enggak ada, diambil terus," katanya.
"Saudara-saudara, kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih US$ 150 miliar tiap tahun. Rp 2.500 triliun tiap tahun," ungkap Prabowo.
Kepala Negara menyatakan, pemerintah terus berupaya untuk menghentikan kebocoran kekayaan negara ini. Pemerintah, katanya, telah menguasai kembali lebih dari 5 juta hektare kebun kelapa sawit yang melanggar hukum, seperti berada di kawasan hutan lindung atau memalsukan laporan. Pemerintah juga telah menutup ratusan tambang ilegal.
"Tambang-tambang tanpa izin. Jadi dianggap seolah-olah enggak ada negara. Ada satu tambang yang sudah dijalankan 8 tahun tanpa izin. Tenang saja dia. Dan ada tambang-tambang yang tiap bulan keluar ratusan miliar rupiah," katanya.
Baca Juga
Di Munas NU, Prabowo Tegaskan Tak Ada Negara Selamat jika Sumber Dayanya Dikeruk Terus
Prabowo pun telah mengerahkan TNI AL, Bea Cukai dan ribuan prajurit untuk menghentikan penyelundupan. Namun, penyelundupan masih terus terjadi.
Prabowo menekankan, menghentikan kebocoran kekayaan negara bukan hal yang ringan mengingat luas dan kayanya Indonesia. Untuk itu, yang diperlukan saat ini adalah pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi.
"Pemerintah harus benar-benar tidak boleh korup. Tidak boleh ada korupsi di pemerintah Republik Indonesia. Ini tidak ringan. Ini tidak ringan. Saya mengerti ini tidak ringan. Tapi apa boleh buat, apa pun harus kita kerjakan, untuk supaya negara kita selamat. Tidak ada negara yang bisa selamat kalau resources-nya sumber sumber dayanya diambil terus. Rakyat banyak yang miskin," katanya.
