Luhut Ungkap Ada yang Pertanyakan Sikap Indonesia di Tengah Konflik Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan menyebut sempat menghubungi salah satu temannya dari salah satu negara Timur Tengah, meski tidak membeberkan negara mana yang dimaksud. Luhut mengatakan bahwa temannya mengeluhkan dukungan Indonesia terhadap negara tersebut.
"Dia mengeluhkan respons Indonesia terhadap situasi di Timur Tengah. Mereka berharap Indonesia bisa memberikan dukungan kepada negara mereka," kata Luhut, di kantor DEN, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Dalam pembicaraan yang digelar, Luhut menceritakan, negara itu diserang beberapa kali dari wilayah utara Iran.
"Dan saya katakan mustahil kita bisa melakukan itu (dukungan terbuka) untuk saat ini. Tapi mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan, apa yang bisa kita sarankan kepada presiden," ujar dia.
Baca Juga
Bitcoin Bertahan di US$ 77.000 di Kala Kejatuhan Harga Minyak dan Penantian Kesepakatan AS-Iran
Dia menerangkan bahwa isu yang terjadi di Timur Tengah tidak hanya berkaitan terhadap ekonomi, melainkan politik. Kompleksitas situasi yang saat ini harus dicermati dan direspons secara hati-hati.
Luhut mengatakan bahwa impor sulfur dan nafta negara-negara Asean Plus Three mayoritas, termasuk Indonesia, berasal dari China, Qatar, Oman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab. Itu menjadi alasan dukungan Indonesia terhadap negara Timur Tengah yang terdampak konflik tengah dipertanyakan.
"Kita juga mengimpor dari negara tersebut, sehingga mereka bertanya mengapa kita tidak memberi dukungan kepada mereka," kata dia.
Luhut menjelaskan perang di Timur Tengah telah meningkatkan kompleksitas ekonomi dan politik di dalam negeri. Khusus ekonomi, terjadi hambatan besar terhadap suplai energi hingga komoditas penting seperti sulfur dan nafta. Dua komoditas itu adiperlukan dalam bahan baku untuk pengolahan bijih nikel High - Pressure Acid Leaching atau HPAL.
"Ini sangat penting bagi industri hilirisasi Indonesia. Sekarang kita menghadapi persoalan terkait hal ini," ucap dia.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Dipicu Harapan Damai AS-Iran, Brent Turun di Bawah US$ 100
Menurut Mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi ini, permasalahan impor nafta dan sulfur itu bisa mengganggu keberlangsungan proyek HPAL di Indonesia.
"Jika HPAL tidak berjalan ekspor kita akan turun, ini berdampak pada ekonomi kita. Jadi kompleksitas ekonomi dan politik itu nyata. Kita harus mencermatinya dengan hati-hati," ujar dia.

