Modifikasi Desain Shell Liner, Kunci Freeport Indonesia Taklukkan Tantangan Bijih Bawah Tanah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Freeport Indonesia (PTFI) berhasil menjawab tantangan operasional pasca-berakhirnya tambang terbuka (open pit) Grasberg melalui inovasi pada komponen utama pabrik pengolahan mereka. Melalui kolaborasi antara tim internal dan mitra strategis, PTFI melakukan modifikasi desain shell liner pada SAG Mill 38 kaki guna memperpanjang umur pakai serta meningkatkan standar keselamatan kerja.
General Superintendent Metallurgy PT Freeport Indonesia Imanuel Hutahaean mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan perjalanan panjang selama lima tahun sejak identifikasi masalah hingga mencapai keberhasilan.
"Jadi proyek ini memakan waktu hampir 5 tahun dari awal kami mengidentifikasi proyek, masalah, identifikasi masalah hingga kami mencapai keberhasilan. Jadi pada dasarnya idenya adalah mencapai, peribahasa yang saya sebutkan sebelumnya, 'lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," ujar Imanuel dalam acara MetConnex 2026 pada sesi bertajuk "Comminution, Grinding & Circuit Optimisation" di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Transisi dari penambangan terbuka ke 100% bijih bawah tanah (underground) membawa perubahan karakteristik material yang signifikan. Imanuel menjelaskan bahwa ukuran umpan (feed size) kini menjadi lebih kasar dan indeks abrasi meningkat hingga 200%.
"Kita bisa melihat ukuran umpan berbeda. Dahulu kala, sekitar 2 hingga 3 inci dalam F80, sekarang di atas 5 inci dalam PSD umpan segar," jelasnya.
Baca Juga
Met Connex 2026 Siap Digelar, CEO Freeport hingga Amman Bakal Kupas Masa Depan Industri Tambang RI
"Dari Indeks Abrasi Bond, kita bisa melihat indeks abrasi meningkat 200%, 200% dari 0,25 hingga 0,45 untuk bijih bawah tanah yang baru," sambungnya.
Kondisi ini sempat menyebabkan umur pakai shell liner menurun drastis, di mana energi kumulatif yang dicapai turun dari kisaran 70-80 Gigawatt jam menjadi hanya sekitar 50 Gigawatt jam setelah tahun 2022. Selain itu, keausan yang sangat tipis di bagian tengah liner menciptakan risiko keselamatan serius bagi mekanik selama proses pemeliharaan atau relining.
Bekerja sama dengan pemasok Bradken dan menggunakan pemodelan Discrete Element Method (DEM), tim metalurgi PTFI memodifikasi geometri shell liner tanpa menambah berat total komponen.
"Jadi kita mengubah geometri dari shell liner tersebut. Jadi jika Anda bisa melihat lifter pada gambar atas, kita bisa melihat pada rentang tengah titik panas (hotspot), kita meningkatkan lifter shell sebesar 15% dari ketinggiannya. Tetapi pada bagian tepi yang memiliki laju keausan rendah, kita menurunkan tinggi lifter sebesar 14,6%. Pada pelat shell, kita meningkatkan ketebalan pelat shell sebesar 5%," papar Imanuel.
Strategi ini bertujuan agar tidak ada bola penggiling yang menghantam liner secara langsung yang dapat menyebabkan kerusakan dini, sekaligus meningkatkan energi penghancuran batuan.
Baca Juga
Antusias, Ratusan Anak Ikuti Freeport Grassroots Tournament 2026 di Gresik
Uji coba desain baru pada tahun 2025 menunjukkan hasil positif. Energi kumulatif kembali meningkat di atas ambang batas 50 Gigawatt jam, yang secara langsung berdampak pada produktivitas dan pendapatan perusahaan.
"Sebagai informasi, kombinasi SAG mill 2 dan SAG mill 3, total pendapatan kotor untuk satu hari operasional adalah sekitar 23 juta dolar. Jadi dengan mencapai lebih banyak energi kumulatif, itu menghasilkan banyak pendapatan bagi perusahaan kami," ungkap Imanuel.
Keberhasilan ini tidak hanya mengoptimalkan aspek metalurgi, tetapi juga memastikan aspek keselamatan terjaga.
"Pada akhir shell liner, tidak ada terlalu banyak pengurangan kapasitas pengangkatan, dan kemudian tidak ada bahaya keselamatan selama proses relining," pungkasnya.

