Nadiem Bantah Grup WA "Mas Menteri Core Team" untuk Bahas Proyek Chromebook
JAKARTA, investortrust.id - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menjelaskan, pembentukan grup WhatsApp yang menjadi sorotan dalam sidang perkara dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Dalam persidangan, jaksa penuntut umum (JPU) menyinggung keberadaan grup "Mas Menteri Core Team" dan "Education Council" yang disebut dibentuk sebelum Nadiem setelah dilantik sebagai menteri.
Baca Juga
Nadiem Sebut Pembentukan Tim Bayangan Kemendikbudristek Disetujui Jokowi
Kedua grup tersebut beranggotakan sejumlah rekan Nadiem. Beberapa di antaranya Jurist Tan, Najeela Shihab, dan Fiona Handayani. Ketiganya diketahui pernah bekerja di Yayasan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK).
Merespons hal itu, Nadiem membantah anggapan grup tersebut dibentuk untuk membahas pengadaan Chromebook maupun proyek tertentu di Kemendikbudristek.
“Begitu kagetnya saya pada saat kasus ini dimulai, bahwa diumumkan oleh pihak kejaksaan bahwa di dalam grup WhatsApp tersebut sebelum menjadi menteri sudah dibahas mengenai pengadaan TIK atau Chromebook, yang ternyata tidak terjadi sama sekali dan tidak ada chat-nya,” kata Nadiem dalam persidangan.
Nadiem mengatakan, grup tersebut dibentuk setelah dirinya memperoleh informasi memiliki peluang kuat menjadi menteri pendidikan.
“Saya pertama kali bertemu dengan Fiona, Najelaa, bahkan Ibam, itu semuanya pada saat saya sudah diberikan informasi bahwa saya ada kemungkinan besar akan dilantik menjadi menteri pendidikan,” ujar dia.
Nadiem mengaku grup WA itu dibentuk sebagai upayanya mencari sosok yang dianggap memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan pemerintahan yang dapat membantunya sebagai mendikbudristek.
“Kalau saya orang yang bertanggung jawab, kalau saya orang yang ingin mempersiapkan diri, tentunya saya harus mencari pakar-pakar orang di bidang pendidikan maupun di bidang pemerintahan,” tutur Nadiem.
“Siapa nama-nama itu? Ya itu orang-orang dalam grup itu,” sambungnya.
Menurut Nadiem, grup tersebut dibentuk untuk membahas arah kebijakan pendidikan secara umum, bukan pengadaan proyek tertentu.
“Di dalam grup tersebut kami membahas garis-garis besar kebijakan-kebijakan yang pada saat ini dianggap bisa mengatasi permasalahan terbesar dalam kebijakan dalam sistem pendidikan kita,” tutur dia.
Nadiem turut menegaskan, pembahasan di dalam grup lebih banyak berkaitan dengan kurikulum dan strategi digitalisasi pendidikan.
“Di dalam chat itu terang benderang tersebut bahwa kita membahas kurikulum, kita membahas strategi digitalisasi,” jelas Nadiem.
“Apa itu digitalisasi? Itu adalah pembangunan aplikasi, dan lain-lain,” katanya menambahkan.
Baca Juga
Rocky Gerung Nilai Jaksa Gagal Hubungkan Fakta Jadi Bukti di Sidang Nadiem
Dalam persidangan, Nadiem menyebut mayoritas anggota grup memiliki latar belakang pendidikan dan pemerintahan dengan reputasi yang baik.
“Dari latar belakang pendidikan, pemerintahan, dan juga reputasi yang sangat bersih dan sangat idealis, mereka dikumpulkan di dalam grup itu. Jadi itulah alasannya kenapa grup itu dibangun,” katanya.

