Kenalkan Investasi pada Mahasiswa, BEI Bangga Jumlah Investor Ritel & Domestik Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong edukasi investasi kepada mahasiswa sebagai bagian dari upaya memperluas basis investor domestik. Upaya ini membuahkan hasil, terlihat dari lonjakan signifikan jumlah investor ritel dalam beberapa tahun terakhir.
Vice Director Research BEI Verdi Ikhwan menyampaikan, pengenalan investasi sejak usia muda menjadi langkah strategis untuk memperkuat pasar modal Indonesia.
“Jumlah investor ritel saat ini mencapai sekitar 23 juta dan terus bertumbuh, dibandingkan 3-5 tahun lalu yang masih di kisaran 3,8 juta investor,” ujar Verdi dalam Investortrust Youth Seminar bertema ‘Meraup Cuan dari Saham Energi’ di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, beberapa waktu lalu.
Dia memaparkan, perkembangan terkini pasar modal Indonesia, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), likuiditas pasar, hingga tren pertumbuhan investor ritel.
IHSG merupakan indikator utama yang mencerminkan pergerakan harga saham secara keseluruhan di BEI. Saat ini, terdapat lebih dari 950 saham tercatat yang menjadi dasar perhitungan indeks tersebut.
“IHSG secara sederhana menggambarkan rata-rata pergerakan dari ratusan saham yang ada di BEI,” imbuh Verdi.
Ia mengungkapkan, IHSG sempat mencapai titik tertinggi pada awal 2026, tepatnya di level 9.134 pada 20 Januari 2026. Namun dalam beberapa bulan terakhir, terjadi dinamika pasar yang signifikan sehingga indeks mengalami penurunan.
“Penurunan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia Pasifik, sehingga menjadi fenomena global,” jelas Verdi.
Selain IHSG, BEI juga menjelaskan dua indikator penting dalam pasar modal, yakni ukuran (size) dan likuiditas. Likuiditas mencerminkan kemudahan investor dalam melakukan transaksi jual beli saham.
Verdi memaparkan, terdapat tiga indikator utama likuiditas, yaitu nilai transaksi, volume transaksi, dan frekuensi transaksi. Berdasarkan data per 27 Februari 2026, nilai transaksi harian di BEI mencapai sekitar Rp 30 triliun.
Sementara itu, frekuensi transaksi mengalami peningkatan signifikan sebesar 88% menjadi 3,3 juta kali transaksi per hari. Adapun volume perdagangan tercatat mencapai 54 miliar lembar saham, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga
OJK Genjot Literasi Investasi Aman bagi Mahasiswa UNPAR dan Kenalkan Satgas PASTI
Dari sisi ukuran pasar, kapitalisasi pasar (market cap) BEI saat ini mencapai sekitar Rp 14.000 triliun atau setara US$ 800 miliar. Selain itu, jumlah perusahaan tercatat juga terus bertambah, dengan rata-rata 50 perusahaan baru setiap tahun yang berhasil menghimpun dana segar sekitar Rp 18 hingga Rp 30 triliun.
“Pertumbuhan jumlah emiten di Indonesia juga tergolong tinggi jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara,” tambah Verdi.
Di sisi investor, tren pertumbuhan juga menunjukkan peningkatan pesat. Saat ini jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia telah mencapai sekitar 23 juta, meningkat drastis dibandingkan 3-5 tahun lalu yang masih di kisaran 3,8 juta investor.
Verdi menegaskan bahwa kontribusi investor ritel dalam transaksi pasar juga semakin besar.
“Transaksi investor ritel dari tahun ke tahun meningkat signifikan. Bahkan pada 2025 hingga tahun ini kontribusinya hampir mencapai 50%,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dari 11 sektor saham di BEI, sektor energi menjadi yang paling tinggi pertumbuhannya dalam lima tahun terakhir sejak pandemi. Sektor teknologi juga mengalami pertumbuhan, meski cenderung lebih fluktuatif.
“Setiap tahun ada sektor yang unggul. Tahun 2020 sektor farmasi meningkat karena pandemi, 2021 sektor teknologi melonjak karena akselerasi digital, dan beberapa tahun terakhir sektor energi mendominasi,” tandasnya.

