IHSG Bersiap Uji Level 7.000 Pekan Depan, Tekanan Global dan Harga Minyak Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan, Senin (16/3/2026). Pergerakan indeks bahkan berpotensi mengarah ke area 7.000 seiring meningkatnya sentimen global yang membebani pasar.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai dalam skenario yang lebih konservatif pelaku pasar perlu mencermati level support jangka pendek IHSG secara lebih hati-hati.
“Jika tekanan eksternal masih berlanjut dan arus dana asing terus keluar dari pasar domestik, IHSG berpotensi menguji area support psikologis di kisaran 7.050 hingga 7.000,” kata Hendra dikutip Minggu (15/3/2026).
Baca Juga
Selat Hormuz Memanas, Menhan Tegaskan TNI Perketat Pengamanan Sumber Daya Alam
Menurut dia, level tersebut menjadi area penting karena berpotensi menjadi titik pertahanan investor domestik untuk mulai melakukan akumulasi.
“Namun apabila tekanan global semakin meningkat, tidak tertutup kemungkinan IHSG dapat bergerak lebih dalam menuju area 6.900 sebagai support berikutnya,” jelas Hendra.
Meski demikian, secara fundamental kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi yang tetap solid serta sektor perbankan yang sehat menjadi faktor penopang utama.
“Oleh karena itu, koreksi yang terjadi dalam periode volatilitas tinggi seperti saat ini justru dapat membuka peluang bagi investor jangka menengah dan panjang untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang lebih menarik,” tuturnya.
Baca Juga
Trump Ancam Serangan Baru ke Pulau Kharg, Tekan Sekutu Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Sebagaimana diketahui, menjelang libur Lebaran pada Jumat (13/3/2026), IHSG ditutup melemah tajam 3,05% ke level 7.137. Penurunan tersebut menunjukkan sentimen risk off sedang mendominasi perilaku investor di pasar.
Kondisi ini dipicu lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level di atas US$100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga energi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi global.
Ketika harga energi naik, pelaku pasar cenderung mengantisipasi dampaknya terhadap inflasi yang dapat menahan langkah bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Dalam berbagai simulasi kebijakan fiskal, apabila harga minyak bertahan tinggi bahkan menembus sekitar US$100 per barel, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi melebar hingga mendekati 4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga
Bos XLSmart Waspadai Dampak Geopolitik Global ke Daya Beli Masyarakat
Padahal dalam asumsi awal APBN, harga minyak hanya dipatok di kisaran US$ 70 per barel. Setiap kenaikan harga minyak memiliki konsekuensi fiskal yang signifikan karena pemerintah harus menanggung tambahan beban subsidi dan kompensasi energi.
Secara perhitungan, kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel dapat meningkatkan defisit anggaran sekitar Rp 6,8 triliun. Dengan harga minyak yang saat ini jauh melampaui asumsi APBN, tekanan terhadap postur fiskal pun semakin meningkat.
“Situasi ini menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar karena tekanan terhadap fiskal negara berpotensi memengaruhi stabilitas makroekonomi secara keseluruhan,” ujar Hendra.
Jika harga minyak terus bertahan tinggi, pemerintah dihadapkan pada sejumlah pilihan kebijakan. Pemerintah dapat mempertahankan subsidi energi untuk menjaga inflasi tetap terkendali, namun langkah ini berisiko memperlebar defisit fiskal.
Sebaliknya, pemerintah juga dapat mempertimbangkan penyesuaian harga BBM bersubsidi untuk mengurangi beban APBN, meskipun langkah tersebut berpotensi menimbulkan risiko sosial serta tekanan inflasi.
Dalam sejumlah simulasi, apabila harga minyak rata-rata berada di kisaran US$ 90 hingga US$ 100 per barel sepanjang tahun, defisit anggaran diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar 3,6% sampai 4% terhadap PDB jika tidak diimbangi penyesuaian kebijakan fiskal.
Saham Pilihan
Bagi pasar saham, dinamika fiskal ini menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan investor. Kenaikan harga minyak memang dapat menguntungkan sektor energi dan komoditas, namun bagi negara yang masih mengimpor energi seperti Indonesia, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan pada neraca perdagangan energi serta fiskal negara.
“Jika defisit APBN melebar terlalu besar, pasar biasanya mulai mengkhawatirkan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi negara serta meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik, termasuk di pasar saham,” terang dia.
Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, investor dinilai masih memiliki peluang untuk melakukan akumulasi secara selektif dengan pendekatan yang lebih disiplin dan bertahap.
Baca Juga
Saham-saham dengan fundamental kuat, arus kas stabil, serta memiliki ketahanan terhadap tekanan eksternal dinilai menjadi pilihan yang lebih aman. Sektor komoditas energi dan pertambangan cenderung mendapat dukungan ketika harga energi global meningkat.
Selain itu, saham perbankan besar dengan fundamental kuat dan valuasi yang mulai terkoreksi juga dinilai menarik untuk akumulasi jangka menengah.
Namun bagi investor dengan profil risiko lebih konservatif, menahan posisi sambil menunggu stabilisasi pasar juga menjadi strategi yang rasional. Dalam fase ketidakpastian tinggi, menjaga likuiditas kerap menjadi langkah terbaik agar investor memiliki fleksibilitas ketika peluang yang lebih jelas mulai muncul.

