ICDX Prediksi Harga Minyak Mentah 2026 Bisa Sentuh US$ 100 per Barel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) memprediksi, harga minyak mentah (crude oil) dapat menyentuh US$ 100 per barel pada 2026.
Menurut Analis dari Research and Development ICDX Girta Putra Yoga, optimisme penguatan harga minyak mentah global kembali terlihat pada awal 2026. Melihat situasi dan perkembangan yang ada di pasar saat ini, Girta memperkirakan harga minyak mentah berpotensi kuat melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini.
“Penegasan aliansi produsen OPEC yang menyatakan akan mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah,” ujar Girta dalam CDX Commodity Outlook bertema ‘GOLD & CRUDE OIL: Availability, Geopolitics and Global Market’ di Mercure Sabang, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga
Rupiah Menguat Tipis, Lonjakan Harga Minyak Bayangi Pergerakan
Level resistance diproyeksikan akan berada di kisaran harga US$ 95 - US$ 100 per barel, dengan level support di kisaran harga US$ 80 - US$ 75 per barel. Pendorong harga minyak mentah masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS-Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump.
Dalam kuartal pertama tahun ini, harga minyak mentah telah terapresiasi 57,89% ke US$ 90 per barel pada awal Maret 2026 dibandingkan awal Januari 2026. Hal ini dipicu ketegangan geopolitik, meliputi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, serta dimulainya perang AS-Iran.
Berbanding terbalik dengan tahun ini, harga rata-rata minyak mentah pada akhir 2025 turun sekitar 21% lebih, ke level US$ 60 per barel dari US$ 77 per barel pada awal 2025. Pada paruh pertama tahun lalu, harga minyak mentah bahkan sudah tergerus hampir 10%, diperdagangkan pada harga rata-rata US$ 69 per barel.
Pergerakan harga minyak mentah global tahun lalu dibayangi tekanan perang tarif oleh Presiden AS Donald Trump terhadap China, serta beberapa mitra dagang utamanya seperti Kanada dan Meksiko.
Imbasnya, harga minyak mentah rata-rata bergerak bearish atau turun hingga menyentuh level US$ 62 per barel pada Mei 2025, sebelum akhirnya kembali menguat pasca AS-China sepakat melakukan jeda tarif selama 90 hari.
Baca Juga
Drama Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Melonjak 4%
Harga terus menguat hingga penutupan kuartal I-2025, didukung sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah pasca-Israel melancarkan operasi ‘Rising Lion’ ke Iran. “Namun, tren penguatan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pembukaan paruh kedua, terdapat ancaman tarif AS yang lebih tinggi, meski sejumlah negara telah melakukan negosiasi dengan itikad baik. Hal ini membuat laju minyak mentah kembali tertekan,” sambung Girta.
Selain itu, isyarat kelompok aliansi OPEC+ untuk meningkatkan produksi dan dimulainya fase pertama gencatan senjata Gaza pada Oktober 2025 membuat harga minyak mentah global bergerak bearish sepanjang paruh kedua tahun lalu. Harga rata-rata pun mengalami penurunan hampir 13% dan diperdagangkan di kisaran level US$ 64 per barel.

