Dragonmine Akuisisi 80% Saham Berkah Prima (BLUE), Arah Bisnis bakal Berubah?
JAKARTA, investortrust.id – PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) resmi menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan bertindak sebagai pengendali baru perseroan.
Berdasarkan keterbukaan informasi dikutip Senin (23/2/2026), Dragonmine Mining berencana mengakuisisi 334,4 juta saham atau setara 80% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Langkah ini merupakan kelanjutan rencana akuisisi yang sebelumnya telah disampaikan perseroan pada November 2025.
Masuknya Dragonmine memunculkan spekulasi arah baru bisnis BLUE. Emiten produsen tinta merek Blueprint itu dinilai berpotensi mengikuti transformasi emiten lain yang beralih ke sektor nikel, seperti langkah CNGR Advanced Material Co., Ltd. saat mengambil alih PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) dan mengubahnya menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk.
Baca Juga
Menyingkap Tabir Saham Gorengan: Mengapa Ia Terus Muncul di Bursa?
Secara profil, Dragonmine merupakan perusahaan privat berbasis Hong Kong yang dimiliki oleh Huayou Hongkong Limited. Entitas ini diketahui merupakan anak usaha dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. yang difungsikan sebagai kendaraan investasi luar negeri di sektor pertambangan dan mineral.
Huayou memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion. Industri nikel Indonesia menjadi salah satu fokus strategis perusahaan. Ekspansi Huayou di dalam negeri terlihat dari pengembangan ekosistem baterai terintegrasi, termasuk melalui Proyek Titan yang bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Transformasi Bisnis
Sementara itu, Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menilai perubahan pengendali berpotensi membuka ruang transformasi model bisnis BLUE.
“Langkah ini berpotensi dapat memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa dimana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing,” ujar Ezar.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat Menuju 8.428, Saham MEGA dan DIVA Lanjut Perkasa
Ia juga menyoroti regulasi terbaru Bursa Efek Indonesia yang memberi ruang bagi emiten untuk mengganti kode saham (ticker). “Sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkapnya.
Aksi Dragonmine terhadap BLUE dinilai bukan kasus tunggal. Transformasi PACK menjadi contoh, setelah diakuisisi oleh PT Eco Energi Perkasa milik Deng Weiming, pendiri CNGR. Pasca akuisisi, PACK berganti nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue jumbo untuk mengakuisisi aset tambang serta smelter nikel.
Adapun berdasarkan data BEI, saham BLUE mencatat lonjakan signifikan dengan kenaikan 117% secara year to date dan hampir 1.900% dalam setahun terakhir. Meski demikian, saham sempat terkoreksi di tengah volatilitas pasar saat pengumuman CSPA disampaikan.

