FTSE Russell Tunda Review Saham Indonesia, IHSG Berpotensi Uji Support 7.863
JAKARTA, investortrust.id – Keputusan FTSE Russell menunda review indeks Indonesia pada Maret 2026 bakal menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (10/2/2026).
Pengamat pasar saham Hendra Wardana mengatakan, keputusan ini menahan katalis teknikal yang biasanya muncul dari rebalancing indeks oleh penyedia indeks pasar saham global hingga potensi inflow tambahan ke saham yang sebelumnya berpeluang masuk indeks ikut tertunda.
Baca Juga
Pantau Reformasi Pasar Modal, FTSE Russell Tunda Evaluasi Saham Indonesia Mirip Keputusan MSCI
“Dalam jangka pendek, keputusan ini dapat meningkatkan sikap defensif pelaku pasar dan mendorong volatilitas berbasis sentimen, bukan fundamental,” tulisnya dalam komentar pasar, Selasa (10/2/2026).
Keputusan ini berpeluang memicu pergerakan IHSG pada pagi ini mengalami koreksi lanjutan. Tekanan psikologis dari penundaan review FTSE dapat mendorong pelaku pasar mengambil sikap wait and see di tengah minimnya katalis positif global.
Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji kembali level terendah sebelumnya di area 7.863. Level ini menjadi support penting dalam jangka sangat pendek karena mencerminkan area munculnya minat beli. Selama level tersebut mampu dipertahankan, koreksi dapat dikategorikan sebagai pullback wajar dalam fase konsolidasi. Sementara itu, area 8.100 menjadi resistance psikologis yang kuat. Tanpa katalis kuat, peluang IHSG menembus 8.100 dalam waktu dekat relatif terbatas.
Baca Juga
BEI Jadwalkan Pertemuan Lanjutan dengan MSCI pada 11 Februari
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada perkembangan reformasi pasar modal menjelang review kuartalan FTSE berikutnya pada Juni 2026 yang akan diumumkan pada 22 Mei 2026. Kejelasan kebijakan free float dan konsistensi implementasi akan menjadi faktor kunci dalam memulihkan kepercayaan penyedia indeks global.
Dalam kondisi ini, strategi rasional bagi investor adalah tetap selektif, memanfaatkan koreksi di area support untuk akumulasi saham berfundamental kuat, serta menjaga disiplin manajemen risiko di tengah volatilitas yang masih tinggi.

