Bank Investasi AS Ini Batalkan Alokasi Bitcoin Karena Kekhawatiran Komputasi Kuantum
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank investasi asal Amerika Serikat (AS) Jefferies memutuskan untuk menghapus alokasi Bitcoin dari portofolio model andalannya, Greed & Fear, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi ancaman komputasi kuantum terhadap keamanan aset kripto.
Dilansir dari CryptoNewsFlash, Senin (26/1/2025), langkah tersebut diambil oleh Kepala Strategi Ekuitas Jefferies, Christopher Wood, yang menarik porsi 10% Bitcoin dari portofolio model tersebut.
Keputusan ini dilaporkan Bloomberg dan didasarkan pada pandangan Wood bahwa perkembangan teknologi komputasi kuantum di masa depan berpotensi melemahkan sistem kriptografi yang menjadi fondasi keamanan jaringan Bitcoin.
Wood menilai, jika suatu saat komputer kuantum mampu memecahkan hubungan antara public key dan private key, maka sistem tanda tangan digital Bitcoin bisa menjadi rentan.
Baca Juga
Jepang Siapkan Kerangka Regulasi ETF Kripto, Implementasi di 2028
Risiko tersebut, menurutnya, cukup besar untuk menggerus daya tarik Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang bagi investor institusional.
Sebagai pengganti, alokasi 10% yang sebelumnya ditempatkan di Bitcoin dialihkan ke aset yang dinilai lebih stabil. Sekitar separuh dana tersebut ditempatkan pada emas fisik, sementara sisanya dialokasikan ke saham perusahaan tambang emas.
Pergeseran ini mencerminkan preferensi Wood terhadap aset tradisional yang tidak bergantung pada ketahanan kriptografi digital.
Meski begitu, pandangan Wood tidak sepenuhnya sejalan dengan mayoritas komunitas kripto dan teknologi. Banyak pengembang dan peneliti menilai bahwa komputer kuantum yang cukup kuat untuk membobol kriptografi saat ini masih jauh dari kenyataan dan belum menjadi ancaman dalam waktu dekat.
Namun, sebagian pakar lain mengingatkan bahwa terobosan teknologi sering kali datang lebih cepat dari perkiraan. Dengan kemampuannya memproses perhitungan matematika kompleks dalam kecepatan tinggi, komputasi kuantum dinilai berpotensi menjadi tantangan serius bagi Bitcoin dan aset digital lainnya jika tidak diantisipasi sejak dini.
Baca Juga
Perbedaan Sikap AS dan Eropa Warnai Isu Kripto di World Economic Forum 2026
Di sisi lain, jaringan Bitcoin juga dinilai memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Protokolnya dapat diperbarui apabila ancaman baru muncul, meski proses perubahan pada jaringan global berskala besar tidaklah cepat karena membutuhkan konsensus luas dan menyangkut keamanan aset bernilai triliunan dolar.
Sejumlah proyek blockchain telah mulai mengambil langkah antisipatif. Pada akhir Desember lalu, Aptos mengajukan proposal AIP-137 yang memperkenalkan skema tanda tangan post quantum pertama di jaringannya. Skema ini dirancang untuk menghadapi ancaman komputasi kuantum di masa depan tanpa menggantikan sistem tanda tangan yang sudah ada.
Sebelumnya, pada November, manajer investasi VanEck juga sempat menyatakan akan mempertimbangkan keluar dari Bitcoin jika komputasi kuantum benar-benar mampu merusak sistem enkripsinya.
Bahkan, salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, memperingatkan bahwa keamanan Bitcoin dan Ethereum bisa terancam runtuh paling cepat pada 2028 akibat perkembangan teknologi kuantum, jika tidak disiapkan solusi sejak sekaran

