BNI (BBNI) Punya Fundamental Kuat, Harga Sahamnya ‘Undervalued’
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI) mulai menggeliat. Didukung fundamental yang kuat, harga saham bank pelat merah ini dianggap masih di bawah harga fundamentalnya alias undervalued.
Meski bergerak konsolidasi dalam sepekan belakangan, sejumlah indikator BBNI menunjukkan potensi kenaikan. Saham BBNI ditutup menguat 0,2% ke level 4.600 pada perdagangan Jumat (23/1/2026), dengan price to earnings ratio (PER) 8,5 kali. Angka ini tergolong rendah dibandingkan rata-rata industri dan kompetitor bank besar lainnya.
Dilansir dari InvestingPro, Sabtu (24/1/2026), nilai wajar (fair value) BBNI berada di level Rp 4.769,71, sehingga terdapat potensi kenaikan harga (upside) sebesar 3,69%.
Di sisi lain, konsensus para analis jauh lebih optimistis dengan target harga rata-rata di level Rp 4.979,85, mencerminkan potensi upside mencapai 8,26%.
Baca Juga
Analis Sebut BNI (BBNI) Paling Siap Hadapi 2026 karena Likuiditas Longgar dan Efisiensi Terjaga
Data InvestingPro juga menunjukkan, sentimen pasar terhadap BBNI sangat kuat. Dari 21 analis yang memantau saham ini, sebanyak 18 analis memberikan rekomendasi beli (buy), tiga analis menyarankan tahan (hold), dan tidak ada analis yang merekomendasikan jual (sell) saham BBNI.
Dari sisi kinerja, bank BUMN ini hingga November 2025 mencatatkan pertumbuhan kredit 11,23% menjadi Rp 822,59 triliun dari Rp 739,54 triliun pada November 2024 (yoy).
Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga (DPK) BNI tumbuh 21,41% menjadi Rp 951,58 triliun pada November 2025, dibanding Rp 783,80 triliun pada periode yang sama 2024.
Baca Juga
Dua Sekuritas Ini Patok Target Harga BBNI Rp 5.000, Begini Perhitungannya
Pertumbuhan itu turut mengerek total aset BBNI menjadi Rp 1.237,10 triliun pada November tahun lalu, atau meningkat 15,33% dibanding periode yang sama 2024 sebesar Rp 1.072,63 triliun.
Hingga November 2025, BNI meraup laba bersih tahun berjalan (bank only) sebesar Rp 18,62 triliun, menurun 6% dibanding periode sama 2024 yang mencapai Rp 19,18 triliun.
Manajemen BNI yakin kinerja keuangan bank tersebut akan membaik tahun ini. “Kami optimistis penguatan tata kelola dan transformasi berkelanjutan ini akan semakin memperkokoh posisi BNI sebagai bank yang sehat, kompetitif, dan mampu memberikan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan.

