Cara 'Scalping' Cerdas Biar Tak Asal 'Entry' di Pasar Saham
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah pergerakan pasar modal yang semakin dinamis dan sarat volatilitas, penguasaan analisis teknikal dinilai menjadi bekal penting bagi trader maupun investor. Hal tersebut mengemuka dalam agenda edukasi bertajuk LaburNusantara, yang mempertemukan praktisi pasar modal dari berbagai negara dalam satu forum pembelajaran.
Salah satu pembahasan utama kegiatan ini adalah strategi scalping. Praktisi trading sekaligus Board of Director International Federation of Technical Analysts (IFTA), Indrawijaya Rangkuti, menilai masih banyak pelaku pasar yang keliru dalam memahami dan menerapkan metode tersebut.
"Sebagian pihak masih banyak yang tidak tepat memahami bagaimana praktik scalping dilakukan,” ujar Indrawijaya Rangkuti dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga
Aksi Korporasi dan Prospek Saham ke Depan, Arah Strategi Alamtri (ADRO) Kian Jelas
Melalui LaburNusantara, Indrawijaya bersama Dato’ Dr. Nazri Khan (DDNK) berupaya meluruskan esensi scalping yang sesungguhnya, agar trader tidak terjebak pada praktik spekulatif tanpa landasan teknikal yang memadai.
Dalam kesempatan yang sama, DDNK yang menorehkan prestasi dengan menyapu bersih kemenangan pada setiap kuartal World Cup Trading Championship 2024, turut membagikan pendekatan yang digunakan. Menurutnya, analisis teknikal tidak berhenti pada pembacaan grafik semata, tetapi menuntut pemahaman mendalam terhadap momentum pasar.
Ia menjelaskan adanya rentang waktu tertentu yang dinilai paling efektif untuk melakukan transaksi harian, yang berkaitan erat dengan pembukaan pasar modal Amerika Serikat. Optimalisasi jam perdagangan tersebut menjadi salah satu strategi kunci yang membawanya meraih perolehan poin maksimal di ajang kompetisi global.
Meski begitu, DDNK menegaskan kemampuan teknikal harus berjalan seiring pembentukan mentalitas yang tepat. Ia menyoroti tiga pilar utama dalam aktivitas trading, yakni pengetahuan dan latihan yang berkelanjutan, disiplin serta kesabaran dalam mengambil keputusan, serta manajemen risiko yang menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
“Informasi edukatif ini bukan bentuk ajakan bertransaksi untuk membuat seseorang mendapatkan cuan secara cepat. Trading memiliki keuntungan dan risiko yang perlu dipahami. Tidak ada jaminan keuntungan,” tegas Nazri.
LaburNusantara bukan sekadar forum edukasi biasa. Kegiatan ini merupakan hasil persahabatan panjang antara Indrawijaya dan DDNK yang terjalin sejak IFTA Conference di Tokyo pada 2015.
Baca Juga
Arah IHSG di Tengah Defisit APBN dan Isu BI, Ini Sektor yang Masih Menarik
Selain membahas teknik scalping, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai tools khusus yang digunakan DDNK saat menjuarai kompetisi internasional. Materi yang disampaikan mencakup beragam instrumen, mulai pasar modal Indonesia, pasar Amerika Serikat, hingga komoditas global.
Melalui edukasi semacam ini, diharapkan trader di Tanah Air tidak lagi sekadar mengikuti arus atau fear of missing out (FOMO), melainkan mampu membangun kemandirian analisis demi keberlanjutan investasi di pasar keuangan global.

