Gelar Perbaikan Neraca hingga Ekspansi, Saham Eagle High (BWPT) Simpan Potensi Cuan 210%
JAKARTA, investortrust.id – PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) memasuki fase transformasi penting melalui perbaikan neraca dan penyegaran manajemen. Perseroan juga melanjutkan ekspansi, perkebunan berkelanjutan, bersamaan dengan potensi kenaikan harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) dunia akan menjadi momentum bagi prospek saham BWPT tahun ini.
Analis Samuel Sekuritas Anhaf Yassar dan Juan Harahap mengatakan, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BWPT pekan lalu memutuskan penunjukan dua komisaris dari FELDA dan satu komisaris independen untuk memperkuat arah strategi ke depan.
Baca Juga
RUPSLB Eagle High (BWPT) Rombak Dewan Komisaris hingga Tambah Kegiatan Usaha
“Transformasi tersebut diharapkan membuka potensi kenaikan valuasi, seiring proses deleveraging dan kuasi reorganisasi yang ditargetkan mampu untuk menghapus rugi akumulasi Rp 3,9 triliun. Keputusan ini diperkirakan dapat memulihkan kemampuan perseroan dalam menyalurkan dividen kepada pemegang saham,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Emiten yang dikendalikan Rajawali Group bersama FELDA (BWPT) ini, sebut Samuel Sekuritas, menargetkan penurunan total utang berbunga dari Rp 4,4 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,9 triliun pada 2027. Rasio gearing bersih diprediksi turun dari 180% menjadi 73%. Di sisi operasional, perseroan fokus meningkatkan kapasitas pabrik untuk memperkuat profitabilitas.
“Dengan akselerasi margin, potensi pemulihan dividen, dan perbaikan struktur modal, kami merekomendasikan beli saham BWPT dengan target harga Rp 450. Target tersebut merefleksikan potensi kenaikan 210% dan valuasi EV/ha 2026 setara US$14.000 per hectare atau sejalan dengan rata-rata sektor,” tulisnya.
Peningkatan Produksi
Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa Eagle High (BWPT) tengah bersiap memasuki siklus kenaikan produktivitas multi-tahun. Program penanaman dan replanting diproyeksikan menurunkan rata-rata umur tanaman dari 18 tahun menjadi 15–16 tahun pada 2029, sehingga meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS)dan stabilisasi Oil Extraction Rate (OER).
Perseroan juga melanjutkan ekspansi pabrik di Bangkirai serta pembangunan fasilitas baru di Papua dan Kalimantan Timur. Ekspansi ini akan mendorong kapasitas pabrik menjadi 400 ton/jam pada 2028, dibandingkan posisi tahun lalu sebanyak 370 ton per jam.
Baca Juga
IHSG & Market Cap BEI Raih Rekor, Asing Borong Rp7,3 Triliun
Adapun dari sisi pasar CPO global, Samuel Sekuritas menyebutkan, diprediksi tercipta keseimbangan baru yang berdampak terhadap re-rating sektor. “Program biodiesel Indonesia ditambah pasokan global yang ketat akibat penurunan hasil panen mendorong harga CPO rata-rata 2025 naik 1,6% YoY menjadi MYR 4.267 per ton setelah melonjak 10,1% YoY pada 2024,” terangnya.
BWPT juga didukung penguatan posisi perseroan sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) premium melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Saat ini, empat dari tujuh pabrik perseroan telah memenuhi standar RSPO.
Eagle High (BWPT) menargetkan penambahan satu pabrik bersertifikasi RSPO setiap tahun dan mengincar sertifikasi penuh pada 2027. Langkah ini dipandang strategis untuk mengamankan penjualan jangka panjang, seiring peningkatan permintaan global atas CPO bersertifikasi dari regulator hingga perusahaan FMCG.

