Pertamina Geothermal (PGEO) Mulai Garap PLTP Lumut Balai Unit 3 Berdaya 55 MW
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) kembali memperkuat komitmennya dalam pengembangan energi panas bumi nasional melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 dengan kapasitas 55 megawatt (MW). Proyek ini resmi dimulai melalui kick-off meeting pada Senin (12/1/2026).
PLTP Lumut Balai Unit 3 berlokasi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lumut Balai, Sumatera Selatan, dan ditargetkan mencapai commissioning operation date (COD) pada 2030.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat Sentuh 9.007, Saham SOHO dan SOTS Kembali Cetak ARA
Di saat bersamaan, PGEO memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, masyarakat, kontraktor, PLN, dan instansi terkait agar setiap tahapan proyek berjalan optimal dan sesuai target.
Direktur Operasi PGEO Ahmad Yani mengatakan kick-off meeting menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan teknis, perizinan, pendanaan, dan pengelolaan risiko. Ia menyebutkan bahwa pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia memasuki fase krusial sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam RUPTL 2025–2034.
“Proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 ditetapkan sebagai bagian dari arah strategis pemerintah. Selain itu, proyek ini juga tercatat sebagai proyek strategis dalam Blue Book 2025–2029 Kementerian PPN/Bappenas,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Proyek ini merupakan lanjutan dari PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW yang telah beroperasi sejak Juni 2025. Langkah tersebut memperkuat target PGEO untuk mencapai kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) dalam 2–3 tahun ke depan dan 1,8 GW pada 2033. PGEO juga telah mengidentifikasi potensi panas bumi hingga 3 GW dari 10 WKP yang dikelola sebagai fondasi pengembangan jangka panjang.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Kantongi 4 Proyek 'Blue Book' Bappenas Senilai Rp 18,1 Triliun
Selain berkontribusi dalam pasokan listrik, industri panas bumi memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional. Pada periode 2010–2024, sektor ini mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp21,43 triliun, serta menghasilkan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp10,82 triliun pada 2019–2024.
“Kontribusi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui multiplier effect,” ujar Ahmad.
Saat ini, PGEO mengelola kapasitas terpasang 727 MW di enam wilayah operasi dan tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis lain, antara lain PLTP Hululais Unit 1 dan 2 berkapasitas 110 MW, serta proyek co-generation bersama PLN Indonesia Power dengan total kapasitas 230 MW.

