Analis Soroti Akuisisi Singaraja Putra (SINI), Petrindo (CUAN) Siap Jadi Holding Terdiversifikasi?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sejumlah analis pasar modal menilai langkah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang tengah menegosiasikan pengambilalihan PT Singaraja Putra Tbk (SINI) bukan sekadar ekspansi bisnis. Aksi korporasi ini juga mencerminkan upaya CUAN memperluas spektrum usaha dari pertambangan berbasis komoditas menuju holding yang lebih terdiversifikasi.
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin, (29/12/2025), manajemen CUAN menyampaikan melalui entitas anaknya, PT Kreasi Jasa Persada, dan afiliasinya, perseroan telah memiliki kepemilikan saham secara tidak langsung sebesar 19,99% di SINI. Kepemilikan ini menjadi pijakan awal bagi CUAN dalam proses negosiasi pengambilalihan.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta memandang transformasi ini adalah mengurangi ketergantungan CUAN pada komoditas tertentu yang selama ini menjadi lini bisnis utama perseroan.
“Ini kan transformasi dari mining holding ke diversifikasi. Holding yang lebih diversified. Itu bertujuan agar supaya bisa menurangi ketergantungan pada komoditas tertentu ya misalnya. Pada komoditas utama yang menjadi lini bisnis daripada CUAN itu sendiri. Jadi, bisa lebih diversified,” kata Nafan saat dihubungi investortrust.id Senin, (29/12/2025).
Ia menambahkan, jika CUAN mampu fokus mengembangkan bisnis non-komoditas, maka stabilitas kinerja keuangan berpotensi lebih terjaga. “Menurut saya, apalagi kalau CUAN ini bisa fokus ke bisnis non-komoditas, bisa mampu menjaga stabilitas baik dari sisi pendapatan. Jadi insya Allah laba bersihnya juga bisa lebih stabilize, itu yang paling krusial,” ujar Nafan.
Terkait valuasi saham CUAN yang dinilai premium, ia menyebut hal tersebut sudah mencerminkan ekspektasi pasar atas transformasi bisnis perseroan. “Nah, disini ya wajar saja, CUAN kan valuasi yang sangat premium sebenernya harganya, pergerakan harga sama CUAN itu sudah terpricing oleh valuasi yang premium. Berarti artinya juga sudah terpricing oleh adanya transformasi dari holding pertambangan jadi holdingnya lebih ter-diversifikasi,” jelasnya.
Senada, analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Laksono, menilai langkah CUAN mengakuisisi SINI menandai babak baru transformasi perusahaan dari sekadar produsen batu bara menjadi konglomerasi energi dan infrastruktur yang terdiversifikasi.
"Transformasi ini bukan hanya menjauh dari komoditas, tetapi membangun ekosistem terintegrasi. Dengan portofolio yang mencakup batu bara metalurgi melalui MUTU, emas, jasa pertambangan melalui PTRO, serta infrastruktur dan akomodasi melalui SINI, CUAN dinilai tengah membangun operational leverage yang lebih kuat," ujar Wahyu kepada investortrust.id Senin, (29/12/2025).
Baca Juga
Emiten Prajogo Pangestu (CUAN) Incar Saham Mayoritas Singaraja Putra
Dalam konteks holding strategis, Wahyu menilai CUAN tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga batu bara termal. Kehadiran SINI, yang memiliki aset penginapan dan bisnis pendukung di kawasan industri dan pertambangan, dinilai dapat menciptakan sinergi grup, termasuk untuk melayani kebutuhan akomodasi ribuan karyawan di proyek-proyek besar grup Prajogo Pangestu, seperti proyek pembangkit listrik 680 MW di Halmahera.
Dari sisi stabilitas arus kas, kehadiran SINI dipandang berpotensi menjadi jangkar saat harga komoditas memasuki fase penurunan. Sektor hospitality dan penyedia jasa cenderung memiliki arus kas yang lebih dapat diprediksi dibandingkan harga batu bara yang bersifat siklikal.
"Dalam jangka menengah, pendapatan dari sektor jasa melalui SINI dan PTRO ditargetkan mampu menyeimbangkan porsi pendapatan grup, sehingga tidak lagi didominasi oleh satu entitas saja. Secara teoritis, struktur pendapatan yang lebih seimbang ini akan menurunkan volatilitas laba bersih," tuturnya.
Wahyu juga menilai perusahaan dengan pendapatan berulang umumnya memperoleh multiple valuasi yang lebih tinggi dibandingkan emiten komoditas murni. Jika CUAN mampu membuktikan bahwa sebagian signifikan pendapatannya berasal dari jasa dan infrastruktur yang stabil, maka potensi premium valuasi dinilai semakin terbuka. Aksi korporasi seperti stock split yang baru saja dilakukan juga dipandang sebagai upaya manajemen menjaga daya tarik valuasi di mata investor ritel dan institusi.
Meski demikian, akuisisi lintas sektor juga membawa risiko eksekusi. Tantangan integrasi budaya antara operasional tambang dan standar layanan hospitality, potensi hilangnya fokus manajemen akibat over-diversification, hingga risiko valuasi akuisisi menjadi catatan tersendiri. Harga beli SINI (sekitar Rp 4.888/saham)yang mencerminkan ekspektasi tinggi berpotensi menekan laporan keuangan jika sinergi yang diharapkan tidak tercapai.
"Secara keseluruhan, langkah CUAN ini adalah upaya untuk melepas label emiten batu bara dan bertransformasi menjadi emiten infrastruktur dan energi. Stabilitas kas dari SINI akan sangat bergantung pada seberapa efektif aset tersebut diintegrasikan untuk melayani kebutuhan internal grup maupun pasar eksternal," pungkasnya.

