Terkendala Biaya, Implementasi Teknologi Keamanan Siber Akun Investasi
Poin Penting
| ● | Keamanan siber akun investasi terkendala biaya, karena teknologi deteksi dan pencegahan serangan membutuhkan investasi besar. |
| ● | Banyak anggota bursa belum cukup berinvestasi pada teknologi andal, sehingga akun investor lebih rentan dibobol. |
| ● | Modal perusahaan efek jauh lebih kecil dibanding bank, sehingga kemampuan membangun sistem keamanan setara perbankan menjadi terbatas. |
JAKARTA, investortrust.id – Keamanan siber bagi akun investasi yang dikelola anggota bursa (AB) seperti sekuritas dan manajemen investasi, disinyalir akibat terkendala biaya investasi teknologi.
Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Lily Widjaja menegaskan, penipuan atau pembobolan akun investasi merupakan kejahatan di dunia digital atau siber yang berkaitan dengan teknologi. Oleh karena itu, upaya pencegahan atau deteksi anomali transaksi juga harus menggunakan teknologi.
“Artinya harus punya teknologi yang andal. Nah teknologi yang andal itu kan tidak murah loh,” ujar Lily saat ditemui usai Investortrust Capital Market Forum di JW Marriot Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Sementara itu, profil permodalan AB di Indonesia sangat beragam, mulai dari kecil, menengah, hingga besar dengan pelayanan luring maupun daring.
AB atau perusahaan efek yang telah menyediakan layanan investasi dengan transaksi daring 100% pun, diimbau mempersiapkan teknologi yang sangat andal. Hal ini demi meningkatkan keamanan dan melindungi aset investor sebagai nasabah.
“Jadi di sana-sini tampaknya masih ada teman-teman (AB) yang sudah online, tapi belum really-really sufficiently invest di teknologi. Sehingga terbukalah untuk serangan macam-macam,” sambung Lily.
Baca Juga
Manajer Investasi Ini Raih Pertumbuhan AUM Tertinggi per Agustus 2025, Siapa Dia?
Dia meyakini, ada teknologi yang bisa mendeteksi adanya anomali transaksi atau mencegah akses akun secara ilegal. Teknologi dimaksud, juga dapat memberi rincian tindakan atau proses transaksi, guna memudahkan otoritas mencari pihak yang merugikan nasabah maupun AB.
“Teknologi harusnya bisa mendeteksi itu. Jadi dari segi broker, bagaimana menyediakan data protection di semua sistem,” tegas Lily.
Berdasarkan penelusuran Investortrust, salah satu self regulated organization (SRO) di bidang pasar modal juga mengutarakan kendala biaya perusahaan efek, dalam menyediakan teknologi keamanan.
Bila dibandingkan dengan keamanan transaksi di bank, narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut menegaskan, modal inti di banyak perusahaan efek, jauh lebih kecil dibandingkan perusahaan perbankan. Alhasil keduanya disebut-sebut, tidak bisa dibandingkan.
Baca Juga
AMII: Industri Manajer Investasi Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Ekonomi

