Masih Tren “Bullish”, IHSG Pekan Depan Menguji Level 8.406
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (10/11/2025) pekan depan diprediksi melanjutkan tren penguatan (bullish) setelah menutup perdagangan akhir pekan ini dengan rekor tertinggi baru. IHSG bakal menguji level 8.406.
“Secara teknikal, pekan depan Senin (10/11/2025) IHSG masih berada dalam fase bullish dengan uji resistance penting di area 8.355–8.406,” ujar analis pasar modal yang juga Founder Republik Investor, Hendra Wardana kepada investortrust.id, Minggu (9/11/2025).
Hendra mengungkapkan, bila indeks mampu bertahan dan ditutup konsisten di atas area tersebut, peluang penguatan akan semakin terbuka lebar.
“Jika mampu ditutup konsisten di atas level ini, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju resistance berikutnya di 8.600–8.770,” kata dia.
Namun demikian, menurut Hendra Wardana, investor tetap perlu mencermati potensi koreksi jangka pendek, mengingat support terdekat berada pada MA20 dan MA5 di kisaran 8.209–8.317, serta support kuat berikutnya di 8.000–8.054.
Pada perdagangan Jumat (7/11/2025), IHSG ditutup menguat 0,69% atau naik 57,53 poin ke level 8.394,59, menjadi rekor tertinggi baru di tengah tekanan bursa global yang mayoritas melemah.
Pencapaian IHSG akhir pekan ini, kata Hendra, menunjukkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik masih kuat di tengah ketidakpastian eksternal.
Dia menambahkan, sentimen positif juga datang dari kabar bahwa Mahkamah Agung AS akan meninjau kembali tarif era Trump terhadap China, yang memunculkan harapan akan perbaikan hubungan dagang global.
“Dari dalam negeri, optimisme tetap terjaga berkat pertumbuhan ekonomi yang tangguh, likuiditas yang longgar, dan dukungan kebijakan reformasi struktural yang berkesinambungan,” tandas dia.
Hendra Wardana menjelaskan, dari sisi penggerak, saham-saham besar seperti BBCA naik 1,46%, ASII menguat 1,58%, dan PTRO melesat 7,89% menjadi motor penguatan indeks. Sebaliknya, tekanan datang dari BBRI, CPIN, dan UNVR yang terkoreksi.
Di sisi korporasi, menurut dia, kabar ekspansi PT Hafar Daya Konstruksi (HDK), anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO) melalui proyek kerja sama senilai US$ 9,5 juta dengan Petronas Carigali North Madura II Ltd, menjadi katalis positif bagi saham PTRO yang melonjak hampir 8%.
Kabar lainnya yaitu keputusan pengadilan yang menyatakan PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE) pailit. Hal itu membuat sahamnya tetap disuspensi oleh BEI untuk menjaga stabilitas pasar.
Hendra Wardana mengemukakan, secara global, mayoritas bursa Asia tertekan akibat koreksi saham teknologi dan meningkatnya ketegangan AS-China, sementara bursa Eropa bergerak datar.
“Meski demikian, penguatan harga komoditas memberikan sentimen positif tambahan bagi saham berbasis sumber daya alam,” tutur dia.
Di sisi lain, harga minyak WTI naik ke US$ 60,06 per barel, Brent ke US$ 64,03, sedangkan emas menguat ke US$ 4.015,22 per ons didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed.
Hendra menilai peluang penguatan lanjutan IHSG masih terbuka, terutama bila capital inflow terus berlanjut.
Untuk strategi saham pekan depan, Hendra Wardana merekomendasikan beberapa emiten yang masih menarik dicermati, antara lain ADRO dengan potensi rebound menuju Rp 2.100, EMTK dengan target Rp 1.465, SCMA menuju Rp 420, RAJA buy dengan target Rp 5.450, serta INET dengan target Rp 350.
“Secara keseluruhan, momentum rekor tertinggi IHSG kali ini menegaskan kuatnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia, meski kehati-hatian tetap diperlukan menjelang rilis data ekonomi global dan potensi rebalancing portofolio investor asing,” tutur Hendra.

