Lippo Karawaci (LPKR) Bukukan Pra Penjualan Rp 4,02 Triliun di Kuartal III 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), platform real estat dan layanan kesehatan terintegrasi membukukan kinerja kuat sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
Perseroan mencatat laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp 368 miliar, dengan pendapatan mencapai Rp 6,51 triliun dan EBITDA sebesar Rp 997 miliar. LPKR juga menjaga posisi likuiditas yang solid sebesar Rp 2,2 triliun, menegaskan manajemen keuangan yang sehat dan terkendali.
“Kami bangga atas kinerja sembilan bulan pertama yang solid, didukung oleh serah terima produk tepat waktu dan strategi bisnis yang disiplin,” ujar John Riady, CEO Grup Lippo Indonesia dalam siaran pers, Senin (3/11/2025).
“Strategi perumahan terjangkau yang dipadukan dengan proyek premium terbukti efektif mendorong pertumbuhan penjualan, sekaligus memperkuat struktur permodalan kami melalui pengurangan utang yang berkelanjutan,” ucap John.
Baca Juga
Lippo Karawaci Bidik Pemanfaatan Air Berkelanjutan Jadi 30% pada Tahun 2030
Hingga kuartal III 2025, segmen real estat mencatat pra penjualan sebesar Rp 4,02 triliun, atau 64% dari target tahun penuh. Kinerja ini didorong oleh tingginya permintaan terhadap hunian tapak terjangkau dan premium, yang menyumbang 70% dari total pra penjualan. Produk-produk tersebut diminati oleh pembeli rumah pertama (first time buyers) maupun end user yang mencari hunian berkualitas dengan nilai investasi tinggi.
Dua proyek unggulan, yaitu Park Serpong tahap 4 dan 5 serta Metropolis Marq Estate di Kota Tangerang, menjadi pendorong utama pencapaian ini.
Secara finansial, pendapatan segmen real estat tumbuh 74% year on year menjadi Rp 5,5 triliun, didukung oleh serah terima unit yang tepat waktu, sementara EBITDA mencapai Rp 843 miliar, hasil dari efisiensi operasional dan eksekusi proyek yang optimal.
Baca Juga
Bisnis gaya hidup (lifestyle) LPKR juga menunjukkan pemulihan yang stabil. Sepanjang periode berjalan, segmen ini membukukan pendapatan sebesar Rp994 miliar, dengan laba kotor naik 8% menjadi Rp 758 miliar, serta EBITDA meningkat 21% menjadi Rp335 miliar.
Peningkatan ini didorong oleh kenaikan tingkat okupansi tenant mal, optimalisasi biaya operasional, dan pemulihan bisnis perhotelan. Rata-rata tarif kamar hotel naik 2% menjadi Rp 635 ribu, sementara kunjungan mal stabil di atas 11 juta pengunjung per bulan, mencerminkan kepercayaan konsumen yang terus meningkat terhadap destinasi ritel LPKR.

