BEI Suspensi 5 Saham Hari Ini, Ada MORA dan PGLI
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara atau suspend perdagangan saham lima mulai Rabu, 22 Oktober 2025. Suspensi ini dipicu atas lompatan harga dalam beberapa tahun terakhir dan dalam rangka menjaga perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien.
Lima saham tersebut terdiri atas PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO), PT Globe Kita Terang Tbk (GLOB), dan PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI).
Baca Juga
Harga Melesat hingga Diserbu Investor Asing, BBCA kembali Perkasa di BEI
Berdasarkan data dalam sebulan terakhir, saham MORA telah melesat lebih dari 221% menjadi Rp 1.350 dan saham TRUE lebih dari 140% menjadi Rp 125. Begitu juga dengan saham WAPO telah melesat lebih dari 83% menjadi Rp 292, PGLI melesat lebih dari 85% menjadi Rp 450, dan GLOB melesat lebih dari 44% menjadi Rp 129.
Sebaliknya, BEI membuka kembali perdagangan PT Timah Tbk (TINS) mulai sesi I, Rabu (22/10/2025). Hanya saja transaksinya akan dimasukkan pada papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme perdagangan full call auction (FCA).
Sebelumnya, produsen timah terbesar di Tanah Air ini terkena suspensi dipicu atas lompatan harga pesat lebih dari 163% menjadi Rp 2.880 dalam sebulan terakhir atau sebelum disuspensi pada 10 Oktober 2025. Sedangkan kenaikan harga saham TINS dalam tiga bulan lebih dari 182%.
Baca Juga
Adapun BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang terakhirnya telah merevisi naik target harga saham TINS menjadi Rp 3.000 dengan rekomendasi dipertahkan beli. Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Nashrullah Putra Sulaeman mengatakan, penguatan penegakan hukum terhadap tambang ilegal akan menjadi katalis utama bagi pemulihan volume produksi perseroan mulai tahun depan.
Produksi TINS diproyeksikan melonjak hingga 45 ribu ton tahun depan, seiring membaiknya aliran bijih dan penguatan tata kelola rantai pasok. Bahkan, manajemen TINS menyebutkan potensi produksi jangka panjang dapat mencapai 80 ribu ton per tahun, meski angka tersebut dinilai masih bersifat aspiratif di luar kerangka RKAB saat ini.

