Suspensi Saham TINS Dicabut, Penguatan Bakal Berlanjut?
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kembali perdagangan PT Timah Tbk (TINS) mulai sesi I, Rabu (22/10/2025). Hanya saja transaksinya akan dimasukkan pada papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme perdagangan full call auction (FCA).
BEI dalam keterbukaan informasinya menyebutkan bahwa suspense atas perdagangan saham TINS di pasar regular dan pasar tunai papan pemantauan khusus (PPK) dibuka kembali mulai sesi I hari ini. Hal ini karena saham TINS disuspensi lebih dari satu hari perdagangan.
Baca Juga
Sebelumnya, produsen timah terbesar di Tanah Air ini terkena suspensi dipicu atas lompatan harga pesat lebih dari 163% menjadi Rp 2.880 dalam sebulan terakhir atau sebelum disuspensi pada 10 Oktober 2025. Sedangkan kenaikan harga saham TINS dalam tiga bulan lebih dari 182%.
Terkait prospek harga saham TINS, BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan beberapa waktu lalu menyebutkan, Timah (TINS) diproyeksikan mencatatkan lonjakan kinerja signifikan mulai kuartal IV-2025, seiring dengan pulihnya produksi pasca-pengetatan tambang ilegal bersamaan dengan kenaikan harga timah global. Pertumbuhan laba perseroan tahun 2026 diprediksi lebih dari 200%. Sedangkan penyerahanan sitaan smelter timah senilai Rp 7 triliun ke perseroan menjadi tambahan sentimen positif.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham TINS menjadi Rp 3.000 dengan rekomendasi dipertahkan beli. Sedangkan dalam sebulan terakhir, harga saham TINS telah melambung lebih dari 160% menjadi Rp 2.700.
Baca Juga
Prabowo Saksikan Penyerahan Aset Rampasan ke PT Timah Senilai Rp 7 Triliun, Ini Daftarnya
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Nashrullah Putra Sulaeman mengatakan, penguatan penegakan hukum terhadap tambang ilegal akan menjadi katalis utama bagi pemulihan volume produksi perseroan. Produksi tahun ini diperkirakan mencapai 15 ribu ton metrik, turun dari estimasi sebelumnya 22 ribu ton dan masih di bawah target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) manajemen sebanyak 30 ribu ton.
Selain peningkatan produksi, terang dia, TINS terdorong proyeksi kenaikan rata-rata harga timah global. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target laba TINS untuk 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 19% dan 206%, menjadi Rp 1 triliun dan Rp 2,4 triliun. Target laba ini mengasumkan harga rata-rata timah (ASP) menjadi US$ 32 ribu per ton untuk 2025 dan US$ 30 ribu per ton untuk 2026 atau naik 10% dan 7% dari perkiraan sebelumnya.

