IHSG Terpukul Kepanikan Global, Proyeksi Akhir Tahun Mentok di 8.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpukul sentimen kepanikan global. Indeks ditutup melemah 209 poin atau 2,57% ke 7.915, bahkan menyentuh level terendah baru sejak 12 September 2025.
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata, penurunan IHSG 2,29% di sesi pertama bukan sekadar koreksi teknikal. Melainkan bagian dari kepanikan global akibat kombinasi krisis kredit di Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik AS–China.
“Tekanan di IHSG hari ini sepenuhnya merefleksikan risk-off mode global,” ujar Liza, melalui pesan singkat, Jumat (17/10/2025).
Di Amerika, lonjakan gagal bayar korporasi seperti First Brands dan Tricolor Holdings memicu kekhawatiran efek domino di sektor keuangan, sehingga investor global beramai-ramai melepas aset berisiko.
Pasar saham di Asia dan Eropa pun terkoreksi serempak, dan IHSG terkena imbas paling dalam karena karakter likuiditasnya yang dangkal.
“Selain faktor eksternal, ada juga rumor di domestik bahwa pemerintah, khususnya Menkeu Purbaya, ingin melihat ‘IHSG yang sesungguhnya’ tanpa intervensi saham-saham konglomerat besar,” sambung Liza.
Baca Juga
IHSG Rontok 2,57% ke 7.915, Analis: Terjadi Fase Konsolidasi, Bukan Bearish!
Sentimen itu membuat sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar yang biasanya menjadi penyangga indeks, malah ikut dilepas hari ini, sehingga tekanan semakin besar. Dalam konteks tersebut, Liza menilai bahwa pelemahan hari ini justru memperlihatkan wajah asli pasar ketika faktor support system sementara dilepas.
“Yakni struktur kepemilikan asing yang besar di saham perbankan membuat IHSG lebih rentan terhadap foreign outflow,” imbuhnya.
Meski begitu, Liza meyakini katalis positif untuk IHSG tetap ada. Badan Pengelola Investasi Danantara tengah menyiapkan injeksi dana sekitar Rp 16 triliun ke pasar modal dalam waktu dekat.
Alokasi tersebut diharapkan bisa menjadi liquidity buffer yang menahan kejatuhan lebih dalam, sekaligus memperbaiki kedalaman pasar yang selama ini terlalu tipis dibanding negara tetangga seperti India dan Hong Kong.
Ke depan, Liza menilai bahwa arah IHSG akan sangat bergantung pada dua hal, yakni seberapa cepat stabilisasi terjadi di sektor keuangan AS dan seberapa besar efek nyata dari likuiditas domestik yang disuntikkan Danantara.
Jika injeksi itu benar terealisasi dan pasar global mulai tenang, Liza menyebut, IHSG punya peluang mengalami teknikal rebound ke atas 8.000 dalam jangka pendek.
Namun selama volatilitas global masih tinggi dan belum ada policy response konkret dari The Fed maupun China, IHSG masih rawan mengalami fluktuasi tajam dengan bias defensif di saham-saham berfundamental kuat dan likuid.
“Secara korporasi domestik, kita juga tengah menantikan kinerja kuartal III-2025 yang harusnya sudah mulai rilis pekan depan sampai akhir Oktober 2025. Earnings-driven atau cerita revenue akan jadi driver market ke depan,” ucap Liza.
Menimbang begitu banyak volatilitas di pasar dalam jangka pendek hingga menengah, Kiwoon Research tetap pertahankan target IHSG akhir tahun pada rentang 7.800-8.000 untuk saat ini.

