Harga Bitcoin Kembali ke US$ 121.000-an Hari Ini, Mampukah BTC Capai US$ 130.000?
Reporter | Taufiq Al Hakim
Editor | Lona Olavia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) memulai bulan Oktober dengan kenaikan yang stabil, namun sempat melemah baru-baru ini, meski demikian koin dengan market cap terbesar itu masih mampu bertahan kuat di atas level US$ 121.000-an. BTC seperti diketahui sempat mengalami sedikit koreksi dari rekor tertingginya di angka US$ 126.000, baru-baru ini.
Pergerakan harga Bitcoin kali ini tidak hanya didorong oleh momentum pasar, tetapi juga oleh perubahan mendalam pada aktivitas on-chain yang menunjukkan keyakinan kuat dari para pemegang jangka panjang maupun jangka pendek.
Melansir dari Pintu, Rabu (8/10/2025), satu angka yang menonjol adalah US$ 130.000, target besar berikutnya yang ditunjukkan oleh pola grafik dan data pasar. Adapun pada perdagangan Rabu (8/10/2025) BTC tengah berada di US$ 122.622 atau turun 0,9% dalam sehari terakhir atau naik 6,27% dalam sepekan.
Lebih lanjut, salah satu tanda paling jelas dari meningkatnya kepercayaan pasar terlihat dari exchange net flow Bitcoin, metrik yang mengukur selisih antara jumlah BTC yang masuk dan keluar dari bursa terpusat.
Nilai negatif menandakan lebih banyak Bitcoin yang ditarik keluar dibandingkan yang disetorkan, menunjukkan bahwa para holder lebih
memilih menyimpan daripada menjual aset mereka.
Per 4 Oktober, Simple Moving Average (SMA) 14 hari untuk net flow Bitcoin berada di angka –7.210 BTC, level terendah dalam hampir tiga tahun. Terakhir kali arus keluar sebesar ini terjadi pada November 2022, tepat sebelum harga Bitcoin melonjak drastis dari sekitar US$ 16.000 menjadi lebih dari US$ 72.000 dalam beberapa bulan berikutnya.
Kondisi ini membuat situasi saat ini semakin menarik, karena mengindikasikan pasar yang perlahan beralih menuju fase akumulasi, bukan distribusi.
Sebagai konfirmasi, data HODL Waves menunjukkan berapa lama koin tetap tidak berpindah. Dalam sebulan terakhir, baik pemegang jangka pendek maupun jangka panjang sama-sama menambah kepemilikannya.
Kelompok pemegang 1–3 bulan meningkat dari 8,75% menjadi 9,59% dari total suplai, sementara kelompok pemegang 2–3 tahun naik dari 7,00% menjadi 7,13%.
Kenaikan 0,13% mungkin tampak kecil, tetapi sebenarnya mewakili puluhan ribu BTC, sebuah perubahan signifikan jika dibandingkan dengan total suplai Bitcoin, sekaligus menjadi sinyal kuat akan keyakinan baru dari para holder jangka panjang.
Partisipasi ganda ini penting, jika hanya satu pihak (baik jangka pendek maupun panjang) yang melakukan akumulasi, reli harga bisa dianggap rapuh. Namun karena keduanya menunjukkan keyakinan yang sama, hal ini menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk potensi kenaikan harga yang berkelanjutan.
Pada grafik harian (7/10/2025), harga Bitcoin baru saja mengonfirmasi pola inverse head and shoulders breakout dengan penutupan yang kokoh di atas garis leher (neckline) di level US$ 122.100. Berdasarkan pola ini, target kenaikan jangka pendek mengarah ke area di atas US$ 130.000, selama momentum beli tetap terjaga.
Indikator Wyckoff Volume memberikan konteks tambahan. Alat ini melacak dominasi antara pembeli (ditandai dengan batang biru) dan penjual (batang oranye) dalam sesi perdagangan. Saat koreksi di bulan September, pergeseran dari batang biru ke oranye menandai penurunan harga dari US$ 117.900 ke US$ 108.400. Namun kali ini pergeseran tersebut belum terjadi, batang biru masih mendominasi, menandakan permintaan beli tetap kuat.
Jika harga Bitcoin mampu bertahan di atas level US$ 122.100, peluang untuk mencapai US$ 130.100 sangat terbuka. Bahkan, jika berhasil menembus level tersebut, pasar berpotensi mencetak cycle high baru pada kuartal ini.
Meski begitu, penurunan di bawah US$ 117.900 atau US$ 108.400 dapat sementara membatalkan pola bullish ini. Namun, data on chain sejauh ini masih menunjukkan kecenderungan pasar yang tetap condong ke arah positif.

