Rugi Bersih Buma (DOID) Membengkak Jadi US$ 74,2 Juta di Semester I-2025 , Bagaimana Semeter II Ini?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 74,4 juta pada semester I-2025. Jumlah ini membengkak 179,13% dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy) dengan rugi bersih US$ 26,58 juta.
Besarnya kerugian Buma seiring dengan penurunan pendapatan bersih di paruh pertama tahun ini yang sekitar 14,59% (yoy), dari US$ 854,97 juta menjadi US$ 730,2 juta.
Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim menjelaskan, kinerja semester pertama mencerminkan dampak gangguan operasional besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di kuartal I-2025. Secara operasional overburden removal tercatat sebesar 209 juta bcm turun 23% (yoy), sementara produksi batu bara mencapai 38 juta ton atau turun 10% (yoy).
Baca Juga
“Penurunan ini terutama disebabkan cuaca ekstrem dan penghentian operasional terkait insiden keselamatan oleh pihak lain pada kuartal I-2025,” terang Iwan secara tertulis, dikutip pada Rabu (1/10/2025).
Sedangkan penurunan pendapatan terutama disebabkan volume produksi yang lebih rendah. Sebagian catatan penurunan pendapatan diopset oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling prices/ASP) sebesar 3% (yoy) dari bisnis kontraktor tambang, serta kontribusi dari bisnis kepemilikan tambang.
“Pendapatan dari bisnis kontraktor tambang terbukti lebih tangguh karena sebagian besar kontrak terlindungi dari inflasi dan pelemahan harga batu bara, menegaskan kekuatan portofolio Grup,” tegas manajemen BUMA.
Sementara itu, posisi EBITDA Buma di semester I-2025 mencapai US$ 64 juta dengan margin 11%, dibandingkan 22% di semester I-2024. Rugi bersih perusahaan pun disebabkan oleh EBITDA yang lebih rendah dan pencadangan piutang untuk operasional di Australia.
Baca Juga
Entitas BUMA Internasional (DOID) Pertahankan Peringkat Ba3 dengan ‘Outlook’ Stabil dari Moody’s
Iwan mengatakan, dampak tersebut sebagian diimbangi oleh pergerakan nilai tukar yang menguntungkan. Keuntungan nilai wajar dari investasi di 29Metals, beban bunga yang lebih rendah, manfaat pajak yang lebih tinggi, serta depresiasi yang lebih rendah, seiring berakhirnya kontrak sewa dan penutupan lokasi tambang.
Meski kinerja semester pertama perseroan terdampak cuaca ekstrem pada kuartal I-2025, manajemen mengaku kinerja operasional pada kuartal II-2025 membaik dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pemulihan kinerja dimaksud, meliputi peningkatan produksi, perbaikan efisiensi, serta arus kas bebas positif, meskipun tantangan akibat curah hujan diakui masih berlanjut.
Iwan menerangkan, pemulihan kinerja yang kuat didukung oleh perbaikan fundamental. Grup membukukan EBITDA sebesar US$ 50 juta pada kuartal II-2025, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal I-2025. “Kinerja kuartal kedua 2025 kami menunjukkan bahwa rencana pemulihan telah menghasilkan progress nyata,” menurut Iwan.
Baca Juga
Net Sell Saham Berlanjut Rp 737,40 Miliar, Pemodal Asing Obral BBCA hingga BBNI
Pemindahan lapisan penutup (overburden removal) naik menjadi 108 juta bcm dan produksi batu bara mencapai 20 juta ton, masing-masing tumbuh 8% secara quarter on quarter (QoQ) seiring kondisi cuaca yang membaik dan operasi yang stabil.
Pendapatan meningkat 8% QoQ menjadi US$ 378 juta, sejalan dengan kenaikan volume, sementara rugi bersih turun menjadi US$ 10 juta, dengan Grup mencapai profitabilitas bulanan pada Mei dan Juni.
Arus kas bebas berbalik positif sebesar US$ 24 juta, dibandingkan negatif US$ 19 juta di kuartal pertama, sementara saldo kas tetap solid di US$ 221 juta. “Pemulihan ini ditopang oleh disiplin operasional yang lebih kuat dan efisiensi biaya,” imbuh Iwan.
Produksi Batu Bara
Produksi batu bara rata-rata mencapai 6,4–7,5 metric ton (mt) per bulan sejak Mei, yang terutama didukung kinerja pemulihan yang lebih kuat di Indonesia.
Efisiensi biaya juga semakin diperkuat. Biaya tunai per unit menurun di 2Q25, dengan pembenahan lebih lanjut hingga Agustus yang menghasilkan penurunan 28% sejak Januari, secara langsung mendukung pemulihan margin.
Baca Juga
ESDM: 'Shifting' BBM Subsidi ke Non-Subsidi Hasilkan Efisiensi Kompensasi Rp 12,6 T
Biaya tenaga kerja (manpower cost) per bcm turun 42% hingga Agustus, didorong pengaturan shift yang lebih disiplin dan alokasi operator yang lebih efisien. Biaya bahan bakar per bcm berkurang 17% hingga Agustus, mencerminkan penurunan konsumsi bahan bakar sebesar 9%, dan penurunan harga bahan bakar sebesar 8%.
Biaya perawatan dan perbaikan per bcm juga turun 13%, didukung penggunaan peralatan pemantau kondisi (health monitoring), serta perpanjangan umur komponen utama sebesar 17%.
“Dengan memperkuat fundamental operasional dan meminimalkan dampak akibat curah hujan, kami berhasil meningkatkan reliabilitas serta memulihkan profitabilitas bulanan menjelang akhir kuartal. Disiplin operasional ini memberikan landasan yang lebih kuat untuk menjaga momentum secara berkelanjutan di bulan-bulan berikutnya,” pungkas Iwan.

