Waspada! 3 Altcoin Ini Berpotensi Alami Likuidasi Besar di Minggu Ketiga September
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pada minggu kedua bulan September, Altcoin Season Index mencatatkan level tertingginya dalam lima tahun terakhir. Sentimen pasar yang positif mendorong sejumlah altcoin mencapai rekor harga tertinggi sepanjang masa dan menarik minat terbuka (open interest) dalam jumlah besar. Namun, kondisi ini juga disertai dengan risiko likuidasi besar-besaran.
Beberapa altcoin berikut menunjukkan tanda-tanda FOMO (Fear of Missing Out) yang ekstrem dan berpotensi mengalami risiko likuidasi pada minggu ketiga bulan September.
1. Ethereum (ETH)
Menjelang pertengahan September, cadangan Ethereum (ETH) mencapai rekor baru sebesar 4,9 juta ETH senilai sekitar US$ 22,2 miliar. Angka ini tidak termasuk 6,7 juta ETH yang disimpan dalam produk ETF Ethereum, yang bernilai sekitar US$ 46,3 miliar.
Laporan terbaru dari BeInCrypto mengungkapkan data on-chain yang mengindikasikan bahwa harga Ethereum berpotensi menembus US$ 5.000 atau lebih. Para trader derivatif tampaknya sejalan dengan pandangan ini, dengan meningkatkan posisi leverage dan long, yang berarti kerugian mereka akan lebih besar jika harga ETH bergerak berlawanan dengan prediksi.
Melansir dari Pintu, Senin (22/9/2025), peta likuidasi menunjukkan bahwa jika harga ETH turun ke US$ 4.046 dalam minggu ini, maka akan terjadi likuidasi posisi long senilai lebih dari US$ 8,8 miliar. Sebaliknya, jika harga ETH naik hingga US$ 5.000 seperti yang diperkirakan oleh banyak analis, maka sekitar US$ 4,8 miliar dalam posisi short akan terlikuidasi.
Lebih lanjut, analisis terbaru mencatat bahwa 99,68% pasokan Ethereum saat ini berada dalam kondisi untung, yang bisa menjadi sinyal bahwa para pemegang akan mulai melakukan aksi ambil untung (profit-taking).
Selain itu, lebih dari 2,6 juta ETH saat ini masuk dalam antrean untuk di-unstake. Pemicu awal datang dari Kiln Finance, yang melakukan unstake guna mengelola risiko setelah masalah yang terkait dengan SwissBorg. Namun, antrean unstaking terus meningkat seiring kenaikan harga ETH, mencerminkan meningkatnya minat untuk merealisasikan keuntungan.
2. Binance Coin (BNB)
Binance Coin (BNB) mencatatkan harga tertinggi sepanjang masa (ATH) di angka US$ 944 pada bulan September. Kenaikan ini terjadi setelah pengumuman kemitraan antara Binance dan Franklin Templeton untuk mengembangkan solusi berbasis blockchain dan kripto yang ditujukan bagi adopsi institusional.
Seperti halnya ETH, peta likuidasi 7 hari BNB menunjukkan ketidakseimbangan antara posisi long dan short. Likuidasi long mendominasi, mengindikasikan bahwa banyak trader bertaruh pada kelanjutan tren naik.
Jika harga BNB turun ke US$ 818 minggu ini, lebih dari US$ 189 juta posisi long akan terlikuidasi. Sebaliknya, jika BNB naik hingga US$ 1.031, sekitar US$ 103 juta posisi short akan lenyap.
Salah satu tanda peringatan datang dari total open interest (OI). Data dari Coinglass per 14 September menunjukkan bahwa total OI untuk BNB mencapai US$ 1,72 miliar.
Sepanjang kuartal ini, OI telah menembus angka US$ 1,5 miliar sebanyak tiga kali. Pada dua kejadian sebelumnya, kondisi tersebut memicu koreksi harga antara 7% hingga 15%. Jika pola ini kembali terulang, lonjakan OI yang ketiga ini bisa menyebabkan kerugian bagi trader yang memegang posisi long pada BNB.
3. MYX Finance (MYX)
MYX Finance (MYX) mencatat salah satu kenaikan harga paling kontroversial di bulan September. Data dari BeInCrypto menunjukkan bahwa token ini melonjak hingga 450% dalam sebulan terakhir.
Namun, MYX juga menghadapi berbagai skeptisisme, termasuk tuduhan terjadinya serangan Sybil dalam program airdrop-nya serta kekhawatiran akan potensi kehancuran seperti yang dialami Mantra (OM).
Saat ini, token MYX telah turun dari harga tertingginya di US$ 18,9 menjadi US$ 10,9, atau penurunan lebih dari 40%. Koreksi ini mengindikasikan bahwa sentimen FOMO mulai mereda.
Sebagai akibatnya, para trader derivatif kini lebih condong ke posisi short. Peta likuidasi 7 hari menunjukkan bahwa posisi short akan mengalami kerugian lebih besar jika prediksi mereka salah.
Jika harga MYX naik kembali ke US$ 12,35, maka lebih dari US$ 19 juta dalam posisi short akan terlikuidasi. Sebaliknya, jika MYX turun ke US$ 8,79, lebih dari US$ 12 juta dalam posisi long akan mengalami likuidasi.
Beberapa analis teknikal memprediksi adanya potensi rebound, dengan menyebut bahwa kisaran harga US$ 10–US$ 11 merupakan zona support kuat di mana investor cenderung akan melakukan pembelian. Analisis terbaru juga menyatakan bahwa koreksi harga saat ini bukanlah pembalikan tren, melainkan koreksi sementara dalam tren naik yang lebih besar.

