Saham MKTR Disebut Menuju Rp 250, Sentimen Ini Jadi Pendorong
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) berpotensi menuju Rp 250 dalam waktu dekat, seiring dengan proyeksi lompatan laba bersih sampai arkhir tahun. Target harga tersebut juga merefleksikan diversifikasi bisnis energi baru terbarukan.
Peluang penguatan kinerja saham perseroan juga dapat dilihat dari lomaptan laba tahun berjalan MKTR menjadi Rp 13,23 miliar pada semester I-2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 7,92 miliar. Pendapatan perseroan juga meningkat dari Rp 457,16 miliar menjadi Rp 493,55 miliar.
Baca Juga
Selain faktor tersebut, seorang sumber dari pasar menyebutkan bahwa, investor tengah gencar mengakumulasi saham-saham emiten sawit, seiring dengan tren kenaikan harga CPO dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, seluruh saham emiten sawit sudah mengalami kenaikan harga pesat, sehingga giliran MKTR yang berpotensi dikerek.
Sejak tahun lalu, emiten dari bisnis kelapa sawit dan produk turunannya ini mulai mendirikan fasilitas produksi Biomass EFB (empty fruit bunch) Pellet, inisiatif berupa penciptaan bahan bakar alternatif ramah lingkungan dengan bahan baku tandan kosong (tankos) kelapa sawit.
MKTR juga sedang menjalankan tahap awal pembangunan fasilitas produksi terbaru Biomass EFB Pellet yang dijadwalkan beroperasi atau commissioning jelang akhir 2025. Hal ini merupakan tindak lanjut dari pendirian mini plant pellet dengan kapasitas produksi 2 ton per hari pada 2024.
Baca Juga
Menthobi Karyatama (MKTR) Bagikan Dividen 35% dari Laba 2024, Nilainya Ini
“Dari produksi secara terbatas pada tahun lalu, Menthobi Karyatama mampu menghasilkan produk Biomass EFB Pellet kualitas tinggi dengan kalori tinggi, serta rendah potasium dan klorin. Sehingga aman untuk kebutuhan bahan bakar industri, terutama Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),” jelas Wawan.
Pemanfaatan Biomass EFB Pellet berbahan baku tankos dari perseroan terutama untuk PLTU, dipercaya akan meningkatkan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT). Hal ini sekaligus akan sehingga mendukung target PLN dalam konversi 52 PLTU menjadi co-firing biomass mulai 2025.

