IHSG Diprediksi Melemah, Simak Tiga Saham Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksi cenderung melemah dalam sepekan ke depan. Dalam perdagangan 1-5 September 2025 pelaku pasar diprediksi fokus pada sentimen kunci, yakni aksi protes dan gejolak pasar.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menjelaskan, pelaku pasar akan fokus pada dinamika demo dan pernyataan otoritas. Termasuk langkah Bank Indonesia dan BEI atau OJK, agar tidak menyebabkan kepanikan di pasar keuangan. “Trader dan investor juga harus mencermati level support penting IHSG 7.700-7.800,” ujar David pada Minggu (31/8/2-25).
Baca Juga
BEI Pastikan Perdagangan Saham Tetap Buka 1 September 2025, Panic Selling Mengintai
Merespons dinamika pasar yang pada saat ini sangat sensitif pada aksi demo merekomendasikan strategi investasi yang berfokus pada saham-saham pilihan berfundamental kuat.
“Demonstrasi mahasiswa dan pekerja mengenai gaji DPR, dana pendidikan, dan program makan sekolah berujung pada penurunan IHSG lebih dari 2% dan pelemahan Rupiah hampir 1%. Bank Indonesia dan pengawas bursa perlu turun tangan untuk stabilisasi,” tandas David.
Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan bahwa perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) akan tetap beroperasi secara normal pada Senin (1/9/2025). Meski sejumlah pihak meminta penghentian sementara perdagangan saham dipicu kekhawatiran penurunan signifikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di tengah situasi sosial-politik yang memanas dalam tiga hari terakhir.
Baca Juga
Menhan: Presiden Instruksikan Panglima TNI dan Kapolri Ambil Langkah Terukur dan Tegas
“Dapat kami beritahukan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 1 September 2025, akan beroperasi secara normal. BEI senantiasa berkomitmen untuk menjaga aktivitas pasar modal Indonesia tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien,” ujar pengumuman resmi Corsec BEI Kautsar Primadi Nurahmad di Jakarta, Minggu (31/8/2025).
Tiga saham pilihan berikut:
1. Beli saham ANTM dari harga terkini Rp 3.040 dengan target harga Rp 3.250 atau berpotensi naik sekitar 6,91%. Investor diingatkan untuk menghentikan kerugian bila harga saham turun menyentuh harga Rp 2.950. “Risk to reward ratio 1:2,” imbuh David.
Sebagai latar belakang, dia menyebut bahwa harga komoditas emas kembali naik menyentuh all time high. Dari sisi fundamental, berdasarkan kinerja semester I-2025, laba bersih ANTM naik 203% (yoy). “Bahkan, pada Jumat pekan lalu saat IHSG bergerak turun, ANTM tetap tutup dengan candlestick yang sangat menarik,” ujarnya.
Baca Juga
Di Tengah Gejolak Politik, Analis Sarankan Transaksi Saham BEI Ditutup Sementara
2. Beli saham HRTA dari harga terkini Rp 690 dengan target harga Rp 760 atau berpotensi naik sekitar 10,14%. Investor diingatkan untuk menghentikan kerugian bila harga saham turun menyentuh harga Rp 660. Rasio risiko dan keuntungan dari saham ini pun di kisaran 1:2,3.
“HRTA sebagai toko butik emas akan sangat diuntungkan dengan komoditas emas yang terus naik. HRTA juga dikabarkan akan bekerja sama dengan BRIS untuk membentuk BSI gold. Dengan kerja sama ini tentu akan memperluas pangsa pasar HRTA,” papar David.
3. Beli saham SIDO dari harga terkini Rp 520 dengan target harga Rp 550 atau berpotensi naik sekitar 5,77%. Investor diingatkan untuk menghentikan kerugian bila harga saham turun menyentuh harga Rp 505. Rasio risiko dan keuntungan dari saham ini pun di kisaran 1:2.
“Perbaikan data keyakinan konsumen memberikan indikasi konsumsi masyarakat masih terjaga. SIDO sebagai produk yang dapat dikonsumsi harian akan lebih resilience terhadap kondisi ekonomi saat ini, serta secara pergerakan harga saat ini SIDO cukup dekat dengan area support,” pungkasnya.

