BEI Pastikan Perdagangan Saham Tetap Buka 1 September 2025, Panic Selling Mengintai
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan bahwa perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) akan tetap beroperasi secara normal pada Senin (1/9/2025). Meski sejumlah pihak meminta penghentian sementara perdagangan saham dipicu kekhawatiran penurunan signifikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di tengah situasi sosial-politik yang memanas dalam tiga hari terakhir.
“Dapat kami beritahukan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 1 September 2025, akan beroperasi secara normal. BEI senantiasa berkomitmen untuk menjaga aktivitas pasar modal Indonesia tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien,” ujar pengumuman resmi Corsec BEI Kautsar Primadi Nurahmad di Jakarta, Minggu (31/8/2025).
Baca Juga
Di Tengah Gejolak Politik, Analis Sarankan Transaksi Saham BEI Ditutup Sementara
Sementara itu, analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, di tengah situasi sosial-politik yang kian memanas, penghentian sementara perdagangan bursa saham layak dipertimbangkan, karena dikhawatirkan IHSG BEI anjlok signifikan. Peluang penurunan dalam telah terlihat dari penurunan dalam IHSG sebanyak 1,53% menjadi 7.765 pada perdagangan hari terakhir pekan ini sebagai cerminan kepanikan pasar.
Dia mengatakan, investor menghadapi risiko kerugian bukan karena melemahnya fundamental ekonomi, tetapi akibat ketidakpastian politik yang semakin membesar. “Jika bursa tetap dipaksa buka, aksi jual berlebihan (panic selling) bisa semakin dalam dan merugikan banyak investor, terutama ritel,” ujar Hendra saat dihubungi investortrust.id Minggu, (31/8/2025).
Mekanisme trading halt memang bisa menahan penurunan sejenak, tetapi belum cukup menenangkan pasar di tengah kondisi politik yang belum kondusif. Menutup bursa sementara waktu justru memberi ruang bagi investor untuk bernapas, sekaligus mencegah kerugian lebih besar akibat kepanikan. Langkah serupa juga pernah diambil di berbagai negara saat menghadapi guncangan politik atau krisis keuangan.
Baca Juga
Apabila perdagangan tetap berlanjut, Hendra mengatakan, secara teknikal IHSG berpotensi kembali melemah menguji level psikologis 7.800. Apabila level ini mampu dipertahankan, peluang rebound jangka pendek tetap terbuka. Namun, jika level 7.800 kembali tertembus, maka IHSG berisiko melanjutkan koreksi menuju support berikutnya di kisaran 7.648. “Level ini akan menjadi penentu penting apakah pasar mampu bertahan atau justru semakin tertekan oleh aksi jual lanjutan,” tegasnya.
Penutupan bursa sementara bisa menjadi sinyal bahwa pemerintah serius menjaga stabilitas, sekaligus memberi waktu untuk meredam eskalasi politik dengan membuka dialog dan menuntaskan isu-isu fundamental seperti RUU Perampasan Aset. “Tanpa langkah ini, risiko capital outflow akan semakin besar, rupiah makin tertekan, dan investor asing melihat Indonesia sebagai negara dengan risiko politik tinggi,” pungkasnya.
Baca Juga
Pemerintah Akan Tentukan Nasib Sekolah yang Masuk Zona Merah Demonstrasi
Sepanjang bulan Agustus, IHSG BEI berhasil melesat sebanyak 4,62% dari 7.484 menjadi 7.830 dan kapitalisasi pasar (market cap) bertambah sebanyak Rp 690 triliun menjadi Rp 14.182 triliun sepanjang Agustus. Bahkan, IHSG berhasil mencatatkan level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) sebanyak dua kali bulan ini, yaitu level 8.016 pada 16 Agustus dan level 8.022 pada 28 Agustus 2025.
Pemodal asing juga mencatatkan pembelian bersih saham di seluruh pasar mencapai Rp 10,95 triliun sepanjang Agustus 2025. Net buy terbanyak melanda saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 3,43 triliun, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 3,34 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 1,82 triliun, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 1,48 triliun, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp 1,06 triliun.

