Meski Emiten Ritel Hadapi Tekanan Daya Beli, MDIY justru Berhasil Cetak Pertumbuhan Tertinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sektor ritel Tanah Air tengah menghadapi tantangan berat akibat pelemahan daya beli konsumen, yang memengaruhi tren penjualan dan aktivitas belanja. Fenomena ‘Rohana’ (rombongan hanya nanya) dan ‘Rojali’ (rombongan jarang beli) menjadi cerminan perilaku konsumen yang lebih selektif di tengah tekanan ekonomi makro.
Namun demikian, emiten-emiten ritel yang memiliki strategi adaptif dinilai masih berpeluang mencetak pertumbuhan kinerja. Hal ini ditunjukkan peningkatan kinerja keuangan sepanjang kuartal I tahun ini.
Baca Juga
Laba Bersih Terkerek 160%, PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) Targetkan Tambah 270 Toko
Data Bank Indonesia mencatat penjualan ritel pada Mei 2025 tumbuh 1,9% secara tahunan, dengan tren pertumbuhan yang tergolong ekspansif di kisaran 0,5% hingga 5,5% sepanjang Januari–Mei 2025, meskipun sempat terkoreksi tipis 0,3% pada April. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2025 juga masih berada di zona optimis di level 117,8, meskipun menurun dibanding awal tahun.
Analis Panin Sekuritas Novi Vianita menilai bahwa keberhasilan emiten ritel di tengah tantangan ini sangat bergantung pada strategi yang relevan dengan preferensi konsumen. “Konsumen tetap belanja, tetapi kini jauh lebih selektif terhadap produk, harga, dan kebutuhan. Emiten yang mampu menyesuaikan strategi akan lebih tahan banting,” jelasnya.
Beberapa emiten mencatatkan kinerja keuangan yang beragam pada kuartal I-2025, seperti PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) mencatat pendapatan sebesar Rp 1,8 triliun atau tumbuh 57% YoY dengan laba bersih Rp 226 miliar atau melesat 160% YoY. Pertumbuhan MDIY didukung ekspansi agresif ke kota tier-2 dan tier-3 serta strategi harga dan produk yang tepat sasaran.
Baca Juga
Hippindo Hadirkan Hari Ritel Modern Indonesia untuk Dongkrak Daya Beli Masyarakat
Emiten ritel lainnya PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) mencatatkan pendapatan Rp 2,1 triliun (+8% YoY), namun laba bersih terkontraksi 30% menjadi Rp 142 miliar untuk kuartal I-2025. Begitu juga dengan PT DFI Ritel Nusantara Tbk (HERO), pemegang lisensi IKEA Indonesia, membukukan kenaikan pendapatan 13% menjadi Rp 1,2 triliun dan berhasil membalik rugi menjadi laba Rp 27 miliar, dari rugi Rp 1 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) mengalami penurunan pendapatan 5% YoY menjadi Rp 3,8 triliun, dan laba bersih anjlok 92% YoY menjadi Rp 4 miliar.
Baca Juga
BI Sebut Peringkat BBB Indonesia dari S&P Global Bukti Prospek Ekonomi Solid
Novi menambahkan bahwa prospek sektor ritel masih positif, khususnya bagi emiten yang mengusung strategi ekspansi, diversifikasi produk, dan optimalisasi harga. MDIY menjadi contoh emiten yang tumbuh pesat karena relevansi produk dan strategi pemasaran yang kuat. Potensi pertumbuhan dobel digit masih terbuka di semester II.
“Kondisi ritel memang berbeda-beda, MDIY tumbuh pesat seiring dengan produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen, pricing dan promotion yang membuatnya affordable dan place yang menjangkau wilayah Indonesia di kota-kota tier-2 dan tier-3 dengan lebih dari 1.000 gerai. Saya masih melihat di semester I ini pendapatan emiten ritel masih dapat tumbuh dan MDIY berpotensi lanjutkan pertumbuhan dobel digit seiring dengan strategi ekspansi mereka” ungkap Novi.

