Tarif AS Bikin IHSG Tertekan, Saham Berorientasi Ekspor Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Selasa (8/7/2025) terpantau tertekan usai keputusan Presiden AS Donald Trump resmi menetapkan tarif 32% untuk produk Indonesia, meski implementasinya ditunda dari 9 Juli 2025 menjadi 1 Agustus 2025.
Berdasarkan data perdagangan BEI sesi I, Selasa (8/7/2025) ditutup turun tipis 0,33 poin menjadi 6.900,60. Sepanjang sesi I IHSG bergerak di rentang 6.885,28 - 6.908,55.
Pelemahan indeks dipicu atas koreksi sejumlah sektor saham, seperti sektor teknologi 0,59%, sektor kesehatan 0,24%, sektor transportasi 0,40%, sektor industri 0,17%, sektor properti 0,25%, sektor siklikal 0,46% dan sektor non siklikal 0,07%. Sebaliknya kenaikan melanda saham sektor energi 1,13%, sektor material dasar 1%, dan sektor infrastruktur 1,34%.
Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi Octa menilai keputusan tarif oleh Donald Trump atas produk-produk impor asal Indonesia jelas menjadi tekanan bagi pasar, terutama bagi sektor-sektor yang mengandalkan ekspor. Dampaknya tak hanya terasa di saham, tetapi juga terhadap nilai tukar Rupiah yang berpotensi terus melemah.
Berdasarkan data perdagangan BEI sesi I, Selasa (8/7/2025) ditutup turun tipis 0,33 poin menjadi 6.900,60. Sepanjang sesi I IHSG bergerak di rentang 6.885,28 - 6.908,55.
Pelemahan indeks dipicu atas koreksi sejumlah sektor saham, seperti sektor teknologi 0,59%, sektor kesehatan 0,24%, sektor transportasi 0,40%, sektor industri 0,17%, sektor properti 0,25%, sektor siklikal 0,46% dan sektor non siklikal 0,07%. Sebaliknya kenaikan melanda saham sektor energi 1,13%, sektor material dasar 1%, dan sektor infrastruktur 1,34%.
Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi Octa menilai keputusan tarif oleh Donald Trump atas produk-produk impor asal Indonesia jelas menjadi tekanan bagi pasar, terutama bagi sektor-sektor yang mengandalkan ekspor. Dampaknya tak hanya terasa di saham, tetapi juga terhadap nilai tukar Rupiah yang berpotensi terus melemah.
"Di tengah ketidakpastian ini, IHSG diperkirakan akan sulit bangkit dalam waktu dekat dan cenderung bertahan di level bawah," kata Reydi saat dihubungi investortrust.id Selasa, (8/7/2025).
Namun, menurut Reydi peluang negosiasi masih terbuka hingga batas waktu 1 Agustus 2025 , yang bisa memberi harapan bagi pasar jika ada pelonggaran atau revisi kebijakan tarif dari AS.
Dalam jangka pendek, Reydi memproyeksikan IHSG memiliki support penting di level 6.745. Jika level ini tembus, maka penurunan bisa berlanjut. Sementara dalam jangka menengah, potensi rebound masih ada, terutama jika negosiasi berjalan positif atau masa pemberlakuan tarif kembali ditunda.
"Untuk saat ini, investor sebaiknya bersikap defensif, khususnya terhadap saham-saham berorientasi ekspor yang paling rentan terdampak," pungkas Reydi.

