IHSG Masih Berpeluang Terkoreksi, Batas Bawah Bisa Sampai Segini
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi masih berpeluang turun atau mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (17/6/2025).
“IHSG masih berpeluang koreksi kembali karena sudah menembus di bawah support 7.120. Target koreksi IHSG ke 7.000-7.050,” jelas Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman melalui pesan singkat, Selasa (17/6/2025) pagi.
Level support IHSG diperkirakan berada pada rentang 7.050-7.090. Namun bila indeks berbanding naik atau justru terapresiasi, BNI Sekuritas diprediksi bergerak di kisaran 7.140-7.200.
Sebagai ide perdagangan, BNI Sekuritas memberi pandangan atas enam saham berikut ini:
-
BMRI Spec Buy dengan area beli di Rp 5.075-5.150, cutloss di bawah Rp 5.025. Target harga terdekat di Rp 5.300-5.500.
-
INET Spec Buy dengan area beli di Rp 172-174, cutloss di bawah Rp 169. Target harga terdekat di Rp 178-182.
-
CUAN Buy if Break 1Rp 2.200 dengan target dekat di Rp 12.325-12.850. Jika belum break di atas Rp 12.200, bisa antri di Rp 11.350-11.700, cutloss di bawah Rp 11.000.
-
MDKA Spec Buy dengan area beli di Rp 2.180-2.200, cutloss di bawah Rp 2.150. Target harga terdekat di Rp 2.250-2.320.
-
PGAS Spec Buy dengan area beli di RP 1.680, cutloss di bawah Rp 1.650. Target harga terdekat di Rp 1.700-1.735.
-
BREN Spec Buy dengan area beli di Rp 6.275-6.300, cutloss di bawah Rp 6.175. Target dekat di Rp 6.475-6.625.
Kemarin, IHSG ditutup turun 0,68%, disertai dengan net sell asing sebesar Rp 155 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BRMS, BBCA, ANTM, PSAB, dan AKRA.
Sementara, Indeks-indeks Wall Street rebound pada perdagangan Senin (16/6/2025). Kenaikan tersebut disebabkan oleh meredanya penguatan harga minyak serta harapan bahwa konflik Israel dan Iran tidak akan meluas. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,75%, S&P 500 menguat 0,94%, dan Nasdaq naik 1,52%.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 1% ke US$ 71,77 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus US$ 77.
Di sisi lain, Iran dilaporkan meminta Presiden AS Donald Trump untuk mendorong gencatan senjata dalam perang udara yang telah berlangsung empat hari.
“Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa negaranya tengah menuju kemenangan,” sambung Fanny.
Di sisi emiten, saham Palantir juga naik hampir 3% karena dinilai diuntungkan dari ketegangan global. Saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat 8,81% setelah Piper Sandler menaikkan target harga perusahaan chip tersebut.
Saham UPS dan FedEx masing-masing menguat 1,1% setelah Trump Organization meluncurkan layanan seluler bernama Trump Mobile, yang menjadikan kedua perusahaan sebagai mitra pengiriman.
Sedangkan, saham Sarepta Therapeutics turun 42,1% setelah mengungkapkan kematian kedua pasien akibat gagal hati akut usai menjalani terapi gen untuk distrofi otot langka. Selain itu, saham U.S. Steel naik 5,1% setelah Trump menyetujui akuisisi senilai US$ 14,9 miliar oleh Nippon Steel.
Bursa Asia Pasifik Menguat, Investor Cermati Data China dan Ketegangan Israel-Iran. Bursa saham Asia-Pasifik naik pada perdagangan Senin (16/6), di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran serta menjelang rilis serangkaian data ekonomi dari China.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,26%, dan Topix menguat 0,75%. Di Korea Selatan, Kospi bertambah 1,80% dan Kosdaq naik 1,09%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,01, Hang Seng Hong Kong menguat 0,70% dan CSI 300 China naik 0,25%.
Sedangkan, FTSE Straits Times turun 0,07% dan FTSE Malay KCLI naik tipis 0,02%. Di sisi lain, China dijadwalkan akan merilis data ekonomi utama untuk bulan Mei 2025, termasuk angka penjualan ritel dan produksi industri.

