Pasar Saham Amerika Longsor Pasca-‘Serangan’ Tarif Trump, Terendah sejak 2020
JAKARTA, investortrist.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) longsor sehari setelah Presiden Donald Trump melancarkan ‘serangan’ tarif timbal balik (resiprositas) secara luas, termasuk tarif dasar 10% terhadap hampir semua negara. Penurunan itu merupakan yang terendah sejak 2020.
Aksi jual pasar meningkat menjelang penutupan. Wall Street terus anjlok karena investor mencerna berita tarif Trump. Aksi jual meningkat pesat menjelang penutupan perdagangan pukul 04.00 petang waktu setempat. Pasar saham di Eropa bahkan ditutup 2,7% lebih rendah.
S&P 500 kembali mengalami koreksi pada Kamis (3/4/2025). Kerugian hariannya merupakanyang terbesar sejak 2020. KeputusanDonald Trump meningkatkan risiko perang dagang global yang dapat menjerumuskan ekonomi ke dalam jurang resesi.
Baca Juga
Trump Jadi “Musuh Bersama”, Negara-Negara Lain Siapkan Tarif Balasan
Indeks S&P 500 terpangkas 4,84%, ditutup di level 5.396,52, tercatat sebagai hari terburuk indeks S&P 500 sejak Juni 2020. Adapun Dow Jones Industrial Average jatuh 1.679,39 poin atau 3,98%, ditutup pada level 40.545,93 yang menandai sesi terburuknya sejak Juni 2020. Sedangkan Nasdaq Composite tergerus 5,97% dan berakhir pada 16.550,61 sebagai penurunan terbesarnya sejak Maret 2020.
Seperti dikutip dari CNBC, Jumat (4/4/2025), sedikitnya400 konstituen S&P 500 membukukan kerugian. Pergerakan hari Kamis membenamkan S&P 500 ke level terendah sejak sebelum kemenangan pemilihan Trump pada bulan November.
Kejatuhan Wall Street terjadi seiring anjloknya saham-saham perusahaan multinasional. Nike dan Apple masing-masing ambles 14% dan 9%. Penjual besar barang impor termasuk yang paling terpukul. Five Below kehilangan hampir 28%, Dollar Tree anjlok 13%, dan Gap terjun bebas 20%. Saham teknologi anjlok dalam suasana risk-off secara keseluruhan. Nvidia dan Tesla longsor masing-masing hampir 8% dan 5%.
Baca Juga
Imbas Tarif Baru Trump, Macron Serukan Tunda Investasi di AS
Presiden Trump menetapkan tarif dasar sebesar 10% untuk semua negara. Beleid itu berlaku mulai 5 April 2025. Bea yang lebih besar terhadap negara-negara yang mengenakan tarif lebih tinggi terhadap AS akan dikenakan dalam beberapa hari mendatang.
Pada Kamis (3/4/2025), Presiden Donald Trump mengakui aksi jual pasar dan menyamakan penerapan tarif dengan “operasi”. Trump sangat yakin kebijakan kontroversialnya berjalan sangat baik.
Ibaratpasien yang sedang menjalani operasi, Trump percaya kondisi pasar modal dan ekonomi AS justru akan “meledak”setelah menjalani operasi.
“The markets are going to boom, the stock is going to boom, the country is going to boom,” ucap Trump kepada wartawan, saat hendak meninggalkan Gedung Putih.

