Penguatan Tak Terbendung, Nilai Kekayaan Pengendali Saham DCI Indonesia (DCII) Ini makin Menggunung
JAKARTA, investortrust.id – Meski ditransaksikan di papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme perdagangan full call auction (FCA), penguatan harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) masih tak terbendung. Lompatan ini menjadikan kekayaan tiga pengendalinya makin membumbung hingga masuk daftar top 10 terkaya di INdonesia.
Berdasarkan data BEI, saham DCII telah menorehkan kenaikan hingga ARA dalam tiga hari meski ditransaksikan di PPK. Sedangkan intraday sesi I hari ini, saham DCII menguat 9,98% menjadi Rp 154,500.
Baca Juga
Bukan Karena Stock Split, Faktor Ini Disebut Jadi Pemicu Utama Lonjakan Saham DCI Indonesia (DCII)
Dengan penguatan tersebut, harga saham DCII dalam sebulan terakhir telah menguat 239,56% menjadi Rp 154.500. Kenaikan tersebut menjadikan kapitalisasi pasar (market cap) emiten data center ini meningkat menjadi Rp 368,17 triliun atau tengah mengejar PT Bank MandiriT bk (BMRI) dengan market cap Rp 448,13 triliun.
Berkat lompatan harga saham DCII dalam sebulan terakhir, ketiga pengendalinya makin tajir, bahkan dua di antaranya masuk dalam daftar top 10 terkaya di Indonesia berdasarkan data Forbes Real Time pagi ini. Di antaranya, Otto Toto Sugiri pemegang 29,9% saham DCII catatkan kekayaan US$ 6,9 miliar atau peringkat enam terkaya di Indonesia.
Begitu juga dengan Marina Budiman menempat urutan ke delan terkaya di Indonesia dengan nilai US$ 4,9 miliar. Kekayaan tersebut didapatkannya dari kepemilikan 22,51% saham DCII.
Baca Juga
Pengendali lainnya Han Arming Hanafia dengan kepemilikan 14,11% saham DCII catatkan kekayaan senilai US$ 3,3 miliar. Sisanya dimiliki Anthoni Salim dengan total saham 11,12% atau bernilai Rp 40,94 triliun.
Lompatan harga saham DCII mulai terjadi setelah emiten data center yang dikendalikan konglomerat Otto Toto Sugiri, Marina Budiman, dan Han Arming ini mengungkap sedang menjajaki aksi korporasi pemecahan nilai nominal (stock split) saham.
Manajemen menilai bahwa stock split dapat meningkatkan likuiditas saham serta menurunkan harga saham per lembar. Di mana harga saham yang lebih terjangkau, para investor akan lebih tertarik untuk membeli saham tersebut.

