Pasar Saham Indonesia Kini Mengandalkan Investor Ritel, ke Mana Pemodal Institusi dan Asing?
JAKARTA, investortrust.id – Transaksi di pasar saham Indonesia saat ini ditopang oleh investor ritel. Hingga Januari 2025, jumlah investor ritel yang bertransaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendominasi sebanyak 44%, disusul institusi lain sebesar 26%, dan institusi keuangan sebanyak 22%.
Porsi tersebut menggambarkan peran masing-masing investor dari total rata-rata transaksi harian sepanjang Januari 2025 di kisaran Rp 10,71 triliun. Sementara itu, transaksi yang dilakukan perusahaan sekuritas di BEI hanya mengambil porsi 5% dari total transaksi harian.
Sisanya, sekitar 4% transaksi di bursa dilakukan oleh perusahaan atau corporate.
“Tahun lalu perdagangan di bursa, institusi domestiknya itu lemes banget, BPJS TK tidak masuk, Taspen juga limited. Bicara AUM reksa dana jugat tidak naik. Jadi yang aktif itu hanya ritel,” ujar Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas Laksono Widodo saat menggelar media visit ke kantor Investortrust.id di Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Penurununan investor institusi, seperti dana pensiun dan asuransi, dipicu tidak adanya aturan yang jelas terkait keharusan mendiversifikasi investasinya ke saham. Bandingkan dengan beberapa negara lain yang mengatur dengan jelas alokasi investasi dana pensiun untuk saham dan portofolio lainnya.
Baca Juga
Setiap tahun, jumlah konstituen Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia semakin mengecil. MSCI terus mengurangi bobot saham Indonesia pada 2024, bahkan total perusahaan Indonesia yang masuk MSCI Global Standards menjadi 17 konstituen saja yang efektif pada Maret 2025, dibandingkan tahun 2019 dihuni 28 perusahaan.
“Kalau lihat kenapa sekuritas asing pada lari dari Indonesia ya itu karena pasar saham Indonesia jadi pasar marginal. Itu realitanya. Masalahnya di size market karena dari ekuitas belum terlihat katalis sampai sekarang, bagaimana Indonesia bisa memimpin,” papar Laksono.
Sementara itu, Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto menambahkan, transaksi saham yang ramai, dibandingkan instrumen investasi pendapatan tetap (fixed income), menggambarkan negara tersebut tengah bertumbuh. Dengan kata lain, pertumbuhan investasi saham meningkat, namun fixed income stagnan.
Sebaliknya apabila pertumbuhan investasi di saham stagnan dan fixed income lebih bertumbuh, maka menggambarkan kondisi negara sedang stagnan. “Contoh sederhana di AS, semenjak probabilitas Donald Trump akan menang, (indeks) S&P 500 terus all time high, mengartikan ekspektasi pertumbuhannya membaik. Beda dengan yield (imbal hasil pendapatan tetap) yang mulai mengetat,” sebut Helmy.

