Jelang Mega Merger, Percepatan Konversi Waran FREN Dinilai Logis
JAKARTA, investortrust.id – Aksi korporasi mega merger PT XL Axiata Tbk (EXCL) dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) untuk membentuk entitas baru bernama PT XLSmart Sejahtera Tbk (XLSmart) menarik perhatian publik, terutama setelah konversi waran FREN-W2 dipercepat dari sebelumnya April 2026 menjadi April 2025.
Sebagaimana diketahui, waran seri III FREN atau FREN-W2 pertama kali diterbitkan saat FREN menggelar penawaran umum terbatas (PUT) IV di tahun 2021 atau yang lebih dikenal dengan right issue.
Saat itu, FREN menerbitkan sebanyak-banyaknya 5.815.610.387 saham baru atas nama seri C yang dengan harga Rp 120 per saham. Perseroan juga menerbitkan waran Seri III sebanyak-banyaknya 91.886.644.115 yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif untuk pemegang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), yaitu setiap 5 saham hasil HMETD akan mendapatkan sebanyak 79 Waran seri III yang diberikan secara gratis.
Baca Juga
XL Axiata (EXCL) Cetak Lompatan Laba Jadi Rp 1,81 Triliun di 2024
Waran Seri III mulai dapat ditebus sejak 28 Oktober 2021 hingga 27 April 2026. Namun dengan adanya aksi korporasi merger yang dilakukan FREN dengan EXCL, periode pelaksanaan waran tersebut dipercepat menjadi maju satu tahun.
Periode kadaluwarsa yang berakhir lebih cepat sejalan dengan time line proses merger tahun 2025, menurut sejumlah analis, merupakan konsekuensi logis dan menjadi bagian dari risiko investasi. Bayangkan, jika expiry date tidak berubah alias tetap di tahun 2026, sementara entitas penerbit waran sudah melebur menjadi entitas baru hasil merger pada tahun 2025.
Di sisi lain, saat ini FREN-W2 dihargai di pasar dengan harga Rp 1 per saham. Apabila ditambah dengan modal untuk menebus dan mengkonversi menjadi saham sebesar Rp 100, total modal yang dibutuhkan bernilai Rp 101. Sementara harga saham FREN saat ini berada pada level Rp 24 per saham.
Analis MNC Sekuritas Christian Immanuel Sitorus menilai bahwa pergerakan FREN-W2 dipengaruhi oleh berbagai faktor dan posisi saat ini tidak bisa dikatakan sebagai suatu hal yang merugikan.
“Perlu dipahami kalau waran itu diberikan sebagai bonus. Artinya pemegang saham saat HMETD mendapatkannya gratis. Secara historis pun, pemegang saham HMETD yang mendapatkan waran FREN-W2 juga sempat untung karena dalam periode pelaksanaan waran, harga saham FREN sempat tembus ke atas Rp 100” ujarnya.
Baca Juga
Pemegang Saham Pengendali Beri Dukungan Solid Merger EXCL dengan FREN
Christian mencontohkan bahwa dari 91.886.644.115 saat ini bersisa 41.242.000.321(scriptless) per 6 Februari 2025 mengacu pada data KSEI. Artinya, saat harga saham FREN berada di atas Rp 100 sudah ada yang menebus dan untung.
Adapun pergerakan harga FREN-W2 yang terus turun sebenarnya adalah hal yang lazim karena biasanya ketika semakin mendekati periode kadaluarsa tren ini umum terjadi.
“Penurunan nilai waran ketika semakin mendekati expiry date memang akan turun dan semakin mendekati nol. Hal ini tidak perlu dirisaukan karena memang secara valuasi demikian adanya” ungkap Christian.
Masih terkait dengan penurunan harga FREN-W2, Christian juga menjelaskan bahwa pihak-pihak yang membeli waran tersebut di pasar sekunder memang akan mengeluarkan modal untuk membeli waran dan menebusnya. Namun aksi ini cenderung berisiko dan spekulatif.
Baca Juga
Merger XL-Smartfren Diungkap, Begini Dampaknya bagi Saham EXCL
“Sebelum membeli waran dan mengkonversi menjadi saham. Banyak aspek yang perlu disoroti dan dipertimbangkan untuk investasi karena waran termasuk derivatif yang semua risikonya sudah diungkap oleh perseroan dalam prospektus. Sehingga segala risiko yang melekat juga secara fair akan ditanggung oleh pihak-pihak yang mengambil keputusan tersebut” pungkasnya.
Adapun terlepas dari persoalan FREN-W2, Christian menyambut positif adanya aksi korporasi merger antara EXCL dan FREN. Aksi mega merger yang disebut sebagai deal of the year di sektor telekomunikasi tersebut akan membawa manfaat jangka panjang yang banyak untuk semua pihak terutama bagi pemegang saham ke depan.

