Wajib Diketahui Investor Tiga Katalis Saham BRPT dan TPIA Berikut
JAKARTA, investortrust.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memiliki tiga katalis yang bisa menjadi pengungkit harga sahamnya ke level Rp 3.500. Pergerakan harga saham emiten yang dikendalikan taipan Prajogo Pangestu ini juga bakal datang dari peluang masuknnya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dalam indeks MSCI.
Analis Sucor Sekuritas Andreas Tarigan menyebutkan katalis pertama adalah kinerja anak usahanya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berpotensi melesat setelah merampungkan akuisisi Shell Energy and Chemical Park (SECP) di Singapura.
Baca Juga
Perseroan sebelumnya membentuk kemitraan dengan Glencore plc untuk mengakuisisi SECP Singapura. Kedua perusahaan telan menandatangani perjanjian jual beli dengan Shell Singapore Pte Ltd untuk akuisisi seluruh saham SECP pada pertengahan tahun lalu, Penuntasan akuisisi ditargetkan awal tahun ini.
“Kami menargetkan akuisisi iini akan mengenerate laba TPIA senilai US$ 107-191 juta tahun 2025 hingga 2026. Dengan demikian bakal terjadi lonjakan kinerja keuangan dari posisi rugi bersih dalam tiga tahun terakhir,” tulisnya dalam riset tersebut.
Sucor Sekuritas
Katalis kedua terhadap lompatan saham BRPT, menurut dia, datang dari ekspansi besar-besaran anak usahanya Indo Raya Tenaga (IRT) yang tengah menggarap pembangki listrik berkapasitas 2.000 MW. Pembangkit sebanyak 1000 MW sudah komersial Agustus 2024 dan ditargetkan meningkat menjadi 2.000 MW tahun ini.
“IRT diproyeksikan bisa menghasikan laba berkisar US$ 120-150 juta. Sedangkan BRPT sebagai pemegang 35% saham bisa dapat tambahan laba berkisar US$ 40-51 juta per tahun,” tulisnya.
Baca Juga
Barito Pacific (BRPT) Laporkan Rating Obligasi idA+, tapi Sahamnya Anjlok dalam Setahun
Katalis ketiga, menurut Sucor Sekuritas, BRPT melalui anak usahanya PT Barito Renwables Energy Tbk (BREN) baru-baru telah mengumumkan potensi penambahan kapasitas pembangki panas bumi dari Souh Sekincau dan Hamiding masing-masing 875 MW dan 550 MW.
Kapasitas tersebut setara dengan 150% dari total kapasitas pembangkit listrik panas bumi BREN saat ini. “Kami melihat bahwa listrik yang dihasilkan dari Sout Sekincau bisa diekspor ke Singapura dengan harga jual yang jauh lebih tinggi atau sekitar 230% lebih tinggi, dibandingkan harga listrik di dalam negeri,” terangnya.
Pembangkit listrik tersebut juga bisa menghasilkan Renewable Energy Certificate (REC) yang tentu bisa mendatangkan tambahan pendapatan bagi perseroan. BREN juga terbuka peluang masuk menjadi konstituen MSCI Index kali ini setelah dua kali gagal masuk akibat sejumlah faktor.
Grafik Saham BREN, BRPT, dan TPIA

