Mandiri Sekuritas Prediksi, IHSG 8.150 Baru Tercapai Akhir 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Mandiri Sekuritas memprediksi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) baru akan menyentuh level 8.150 pada akhir 2025.
Head of Equity Market Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan, pasar saham Indonesia akan mengalami ‘The Waiting Game’. Artinya, pelaku pasar menunggu kondisi yang lebih pasti,di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan domestik.
Menurut dia, IHSG menghadapi tekanan strategi bottom-up. Oleh karena itu, dalam keadaan seperti saat ini, sangat penting bagi investor untuk berfokus pada sektoral saat memasuki tahun 2025.
Baca Juga
IHSG Sesi Melesat 107 Poin, Sejumlah Saham Berikut Torehkan Penguatan
“Kami mendorong para investor untuk berkonsentrasi pada area di mana perputaran uang akan meningkat. Hal ini seiring meningkatnya kebutuhan pendanaan menghadapi kondisi likuiditas yang masih ketat dan volatilitas besar, yang mungkin akan terus terjadi sampai adanya kepastian yang lebih besar,” papar Adrian yang dikutip pada Senin (25/11/2024).
Menurut analisis tim riset Mandiri Sekuritas, IHGS akan bergerak pada kisaran 7.140-8.590 sepanjang 2025. Sektor-sektor yang akan disukai tahun depan, diperkirakan meliputi sektor konsumsi, pangan, properti, telekomunikasi, transportasi, dan retail.
Sementara, pada Kuartal II-2025, sektor-sektor yang disukai diproyeksi terdiri atas sektor perbankan, automotif, dan retail. Sedangkan bagi pasar obligasi, Mandiri Sekuritas memperkirakan produk investasi ini akan diwarnai beberapa katalis positif.
Pertama, terdapat prospek penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang masih terbuka. Hal ini didukung tekanan inflasi yang relatif masih rendah, serta ekspektasi suku bunga The Fed dipercaya akan terus turun sampai 2025.
Kedua, tekanan pasokan surat berharga negara (SBN) juga dinilai masih dapat diatur (manageable). Sebab, pemerintah masih bisa menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL), optimalisasi program pinjaman (loan), dan pembiayaan investasi, serta transisi ke pemerintahan baru yang mulus.
Ketiga, sentimen positif untuk pasar obligasi adalah valuasi yang dinilai masih cukup menarik jika dibandingkan dengan imbal hasil (yield) yang ditawarkan oleh negara-negara berkembang dengan peringkat yang sama.
”Kami percaya bahwa pasar obligasi akan memberikan positive return pada 2024 dan 2025,” ujar Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas Handy Yunianto.
Baca Juga
Pasar Saham Jenuh Beli, IHSG Diprediksi Cenderung Konsolidasi Senin Besok
Di sisi lain, risiko yang masih akan menghantui pasar obligasi Indonesia diperkirakan, antara lain hasil Pemilu di AS dan eskalasi konflik geopolitikal. Kebijakan fiskal Trump, seperti pemangkasan pajak dan kenaikan tarif impor barang dan jasa dari luar, dinilai dapat berdampak terhadap kenaikan inflasi, serta perlambatan ekspektasi penurunan suku bunga Fed Fund Rate.
Namun demikian, Handy mengatakan bahwa ada perkembangan menarik di pasar obligasi Indonesia dengan korelasi imbal hasil US Treasury dan yield obligasi Pemerintah Indonesia yang menurun.
“Hal itu seiring makin besarnya dominasi investor domestik, tidak hanya dari investor institusi tetapi juga dari ritel. Bahkan tahun ini ritel adalah pembeli terbesar pasar obligasi pemerintah,” tutup Handy. (CR-10)

