LMAN Ternyata Kerap Menemukan Tantangan Ini Saat Mulai Mengelola Aset, Apa Saja?
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Pengembangan dan Pendayagunaan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) Candra Giri Artanto mengungkap kerap mendapatkan beragam masalah saat mulai mengelola aset yang sudah lama tak dioptimalisasi, bahkan aset yang sudah diduduki kelompok masyarakat tertentu.
“Contohnya, kalau ada bangunan atau sebuah gedung tidak terlalu dioptimalisasi, selama 11 tahun, yang pertama dikuasai pihak-pihak tak bertanggung jawab,” kata Candra di kantor LMAN, Jakarta, Senin (7/10/2024).
Selain itu, Candra menuturkan, masalah lain yang muncul yaitu bangunan tersebut biasanya dalam kondisi rusak. “Dan pasti banyak tunggakan, baik tunggakan air, listrik, telepon, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan lain sebagainya,” kata dia.
Baca Juga
Candra menjelaskan, LMAN akan bekerja sama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan untuk menggali angka tunggakan. Langkah ini dilakukan agar pembayaran tunggakan tidak salah. “Berapa seharusnya pemerintah dalam hal ini membayar (tunggakan)” kata dia.
Persoalan lain dalam pengelolaan aset yang selama ini dihadapi LMAN yaitu sertifikat. Candra mengatakan banyak aset yang diserahkelolakan ke LMAN tidak atas nama Kementerian Keuangan. “Jadi kita perlu sertifikasi dulu,” kata dia.
Selama ini, Candra menjelaskan, LMAN menggunakan kajian analisis biaya untuk menentukan aset mana yang bakal dikelola. Analisis menggunakan metode Net Present Value (NPR), Internal Rate of Return (IRR), dan payback period.
“Jadi kalau asetnya secara keuangan tidak layak, kami juga mesti mengambil langkah lain. Tapi, selama ini layak semua dan kita selama ini profesional,” kata dia.
Baca Juga
Candra menyontohkan, kelayakan itu mengukur biaya renovasi sebuah unit apartemen. Dengan biaya sekitar Rp 400 juta untuk perbaikan, LMAN akan menghitung biaya sewa selama setahun. “Itu harus kita hitung. Harus akuntabel,” ujar dia.
Data dari LMAN, saat ini jumlah aset yang sudah teroptimalisasi sebanyak 126 aset yang terdiri atas 54 unit apartemen dan 72 aset dalam bentuk non-apartemen. Sementara, jumlah aset kelolaan mencapai 310 aset yang terdiri dari 1 Kilang LNG Arun, 1 Kilang LNG Badak, 151 unit apartemen, 112 ruko/gudang, 14 gedung, 22 tanah, dan 9 rumah.
Jumlah aset yang siap untuk dipasarkan berjumlah 45 aset yang terdiri dari ready to market sebanyak 42 unit dan aset dalam kondisi as it is sebanyak 3 unit. Dari 45 aset yang siap untuk dipasarkan ini terdiri dari 33 unit apartemen dan 12 unit non-apartemen.

