Didorong Pemangkasan Suku Bunga dan Pemerintahan Baru, Target IHSG 2024 Direvisi Naik
JAKARTA, investortrust.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) merevisi target indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi 7.915 hingga akhir 2024, dibandingkan perkiraan sebelumnya level 7.585. Sedangkan 10 saham menjadi pilihan teratas.
Adapun IHSG intraday sesi II, Kamis (12/9/2024), menguat 44 poin (0,59%) menjadi 7.805. Bahkan, IHSG sentuh rekor intraday tertinggi 7.833 ditopang lompatan mayoritas sektor saham.
Head of Investment Information Mirae Asset Martha Christina mengatakan, revisi naik target IHSG tahun ini didorong oleh faktor peluang penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika maupun Bank Indonesia. Kemudian optimisme kehadiran pemerintahan baru di semester II-2024.
Baca Juga
Umumkan Lepas Bisnis Batu Bara Rp 37,77 Triliun, Saham Adaro Energy (ADRO) Terbang
"Jika dilihat semester II-2024 ini harusnya pertumbuhan ekonomi akan lebih bagus, karena ada pilkada, nilai tukar yang stabil, hingga pemerintahan baru," kata Martha dalam Media Day Mirae Asset di Kawasan Sudirman, Jakarta Kamis (12/9/2024).
Mirae Asset Sekuritas juga menambah jumlah pilihan saham dari semula hanya 9 saham menjadi 10 saham untuk semester II-2024. Saham-saham tersebut meliputi ASII, TLKM, BMRI, BBCA, BBRI, ICBP, MYOR, MAPI, ACES, dan SIDO.
"Jadi ada penambahan pada dua saham yakni SIDO dan ICBP dan ada 1 yang dikeluarkan, kalau kita lihat memang pemilihan saham-saham ini memang dilihat dari valuasinya yang cukup menarik, utamanya seperti Astra, Telkom itu valuasinya masih cukup murah, jadi itu yang menjadi pilihan kenapa dimasukkan di sini," ucap Martha.
Baca Juga
Mirae Asset Sekuritas Revisi Naik Target IHSG 2024, Sebanyak 10 Saham Ini Pilihan Teratas
Dalam pemberitaan investortrust.id sebelumnya, Head of Research/Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan, seiring dengan katalis positif arus masuk asing yang kuat dan kebijakan pemotongan suku bunga untuk mendorong IHSG mencapai ke level 7.915 sampai akhir tahun.
Dia mengatakan, pasar Indonesia telah menunjukkan kinerja yang kuat. “Momentum positif ini didorong oleh faktor-faktor global, terutama ekspektasi The Fed pemotongan suku bunga 25 bps dalam pada pertemuan FOMC pada September ini,” kata Rully.

